Kamis, 30 Oktober 2014

GARIS LURUS




hanya ombak, pasir, garis khatulistiwa
membentang di pelupuk mata
mengabur dari kenangan

seperti ombak yang kembali ke pantai
aku selalu datang menyapamu
seperti pasir yang kupijak
aku mencoba menyusuri kembali jejakmu

hanya bisikan, tawa dan kenangan
yang dapat menggapaiku, menuntunku
hingga ke tepi lautmu

seperti garis khatulistiwa nun jauh di sana
aku seperti kembali meniti seluruh waktu
tapi selalu saja ada bayangku yang tertinggal
dan terlepas oleh kealpaan tanpa kumau

ada garis tangan ibu yang luput dari genggamanku
tak dapat kubaca, meski dengan airmata, meskipun
aku mencoba menjadi perempuan yang sama

aku tak dapat mengenakan gaun, memupur lipstik di bibir
atau membuat garis lengkung pada alis mata
selalu saja diriku terlukis di sana dengan sapuan warna
yang tak pernah aku pahami hitam atau putih

maka aku hanya dapat menarik sebuah garis lurus
seperti garis di tepi cakrawala, jika itu jalan yang kutempuh
: mungkin jalan kodradku sebagai seorang perempuan

 
DPS 29102014 - ilustrasi : google


Rabu, 29 Oktober 2014

PECAH

ada yang pecah tapi bukan kaca
ada yang basah tapi bukan embun
ada yang berlari tapi bukan di jalan

ada di pelupuk mata tapi bukan bayangan
ada di dalam ingatan tapi bukan kenangan
ada di dalam rasa, firasatkah...



DPS 28102014

Senin, 27 Oktober 2014

DEHIDRASI


selepas hari. selepas mimpi
menyimpan dada dari denyut
menghisap sisa waktu
lewat kepulan-kepulan


tinggal dehidrasi, melengkungkan tubuh
tersembunyi di antara lekukkan
terkulum sudah di sudut bibir



DPS27102014

Jumat, 24 Oktober 2014

BOLONG


siang di pelipisku bercerita tentang terik
aku menguap dengan lenguhan panjang
siang yang diare di perutku
melahirkan gumaman tentang waktu
yang kuperas di jembangan
wajahku memantulkan erangan


siang yang bolong itu tergelincir
menyisakan sumpah serapah
dari pikiran dan perasaan yang banal
tentang profesinalisme tagihan
membuatku lebih senja dari waktu
tanpa memberimu buah kuldi
untuk kau lahap dengan sisa imaji

kau kemudian membisikkan sesal
tapi aku terlanjur mengumbar
setiap waktu yang terabaikan
jika aku harus kembali menyusuri
jalan pulang, tempatku menyimpan
seluruh kecemasan menjadi bagian
penerimaan tanpa alasan



DPS 10092014 - ilustrasi :google

PENAWAR




telah aku lepaskan seluruh larik-larik puisi
seperti aku melepaskan gaun malamku
tapi kau masih juga bertanya tentang makna
dari setiap ungkapan untuk kusingkapkan
padahal kau tahu bagaimana menerjemahkan
dengan interpretasimu sendiri pada setiap lekuk
bayanganku, meskipun hanya sebagai
kilasan-kilasan peristiwa di dinding waktumu

haruskah persetubuhan setiap makna
menjadi bisikan-bisikan liar
di mana suaraku nyaris hilang tak terdengar
ketika setiap kata kau kuliti
seperti setiap inci pori-poriku
di mana darah keperempuananku
mengalir dan berdesir dengan deras
setiapkali aku menyebutkan namamu
dengan bahasa-bahasa mantra
agar kau tak pernah berpaling
tetapi semua seperti menjadi sia-sia

maka kini aku hanya dapat memadatkan
semua keyakinan dalam diriku, meskipun
mungkin aku hanya menjadi bongkah batu
dan berkarang di tepi lautan yang luas
seperti yang selalu diajarkan lelaki lautku
untuk menerima badai dan topan
sebagai penunjuk arah, jika setiap kata
adalah makna dari setiap langkahku

di sanalah aku akan berdiri dengan tegak
dengan seulas senyuman sebagai penawar
jika hidup tak selalu terasa hambar

 
 
Denpasar 24102014 - ilustrasi : google

SEPATU

sepatu yang teronggok di depan pintu
apakah sepatumu

mengapa aku tak mendengar langkahmu
mendekat atau menjauh

apakah kau datang
dari masa lalu atau masa depan

aku merasakan adanya hembusan
begitu sangat kukenal
ada sisa bau tubuhmu

: menyengatkan gairahku


DPS 21102014

BERKELINDAN


hari-hari yang basah membasuhku
dari teriknya percakapan
penuh dengan desahan napas memburu

sebab kutahu rinduku dan rindumu adalah satu
untuk terus bersulang dalam kenangan
di mana kita selalu bercumbu setiap kata

dan menjadi makna seperti gaun terbuka
di mana kelamin jantan dan betina
berkelindan dalam tautan yang sama



DPS 23102014