Kamis, 22 Oktober 2015

JALAN LEMPANG




kita mencoba tetap bertahan, di bawah terik
memanggang bayangan yang memanjang
mencoba menyusuri jalan yang lengang
hari-hari pun serasa melepuh dalam peluh
tetapi kita mencoba tak berkeluh

di ujung usia yang tersisa, kita mencoba menyepuh
sisa-sisa kenangan di mana kasih kita tumbuh
sesekali kita mencoba berteduh di luar musim
di mana kelopak-kelopak waktu begitu mudah luruh
dan kuberikan padamu seulas senyum terkulum
meskipun daiam-diam ada yang luruh tanpa kau tahu

kita tetap mencoba bertahan, menyiangi kesunyian
di antara bentangan jarak dan waktu
di mana kecemburuan membatu dan membeku
tapi kita selalu tahu ada saatnya untuk bercumbu
meskipun dengan rasa malu-malu

di ujung usia yang menyerpihkan harapan
kita tahu bagaimana memetik setiap kealpaan
menjadi sebuah ikatan di mana setiap bayangan
tak selalu melampirkan kelam
meskipun di jalan yang lempang kita tahu tujuan


DPS 23 10 2015 - ilustrasi : google

SEMANGKA


di dalam tidur buah semangka itu tumbuh
dan kau membelahnya dengan sisa impian
kau mendesah terjaga melihat isinya tak semerah saga


DPS  21 10 2015/ilustrasi google

PUTUS SAMBUNG

ada yang tak tersambung
di antara kalimat penghubung
membuatmu linglung


DPS 22 10 2015

LOLONGAN


jangan pernah kau bertanya
dari rahim perempuan mana aku dilahirkan
jangan juga kau bertanya
dari puting mana kuhisap susu kehidupan
jangan kau pernah bertanya
apakah aku disiangi oleh rembulan dan matahari
jangan pula bertanya
mengapa diriku menjelma gerhana


kecuali, jika kau ingin melihatku apa adanya
sebagai seorang perempuan yang bertandang
dan selalu mengemasi dirinya sendiri
sebagai sebuah bayangan yang melesap
dan membentuk setiap lekuk cahaya
dengan irama-irama paling purba
untuk selalu meliuk-liukkan rantai harapan
mekipun terkadang aku harus mengekang diriku
dan mengabaikan apa yang harus kumiliki

dan jika kau menginginkan sebuah jawaban
hanya untuk merengkuh diriku, mungkin
kau perlu memahami struktur diriku
bukan hanya dari pinggul dan buah dadaku
atau parasku yang hanya membuatmu
menjadi seorang pecundang yang berlari
melewati pintu-pintu malam seraya melolongkan
kebenaran sebagai kekelaman



Denpasar 21 10 2015 - ilustrasi from google

Senin, 19 Oktober 2015

PENYADAP


aku bukanlah perempuan penyadap
setiap bahasa menjadi erangan
hanya untuk setiap napas pemujaan



DPS 19 10 2015 - ilustrasi : google

Jumat, 16 Oktober 2015

KUDA TROYA


aku bukan kuda troya
yang menunggangi malam
hanya membuatmu terkapar dalam kelam



DPS 15 10 2015 - ilustrasi: na

CECAP


percakapan yang dituang
dari bibir yang basah
sudah tercecap tak terbilang


DPS 16 10 2015 - ilustrasi : na

PEREMPUAN WAKTU




seharum apakah bunga
hingga kau ingin menciumnya
seindah apakah kelopaknya
sehingga kau lekat-lekat menatapnya

secantik apakah parasku
sehingga kau memujanya
seelok apakah lekuk tubuhku
sehingga kau ingin tumpahkan birahimu

aku bukanlah hawa yang diturunkan dari kesepian adam
aku bukanlah rabi'ah yang melepas keikhlasan duniawi
aku bukanlah dewi sinta, dipuja rama dan dasamuka
di tubuhku tak ada sejarah perempuan

dari semua kisah itu yang ada hanya
bayanganku sendiri di mana selalu
membuatku khilaf dan terasing dari ruang dan waktu
itulah diriku tempat bersemayam jiwaku


DPS 13 10 2015 - ilustrasi : na

Jumat, 09 Oktober 2015

MELINTAS




kulihat sosok bayangmu
melintas di antara ruang-ruang semu
menggeliat sesaat di antara sisa waktu



DPS 10 10 2015 - ilustrasi from google

LEMBAB




mendung memang kelabu
tapi hujan belum tentu
hati perempuan siapa yang tahu


DPS 09 10 2015

Kamis, 08 Oktober 2015

SUDUT PANDANG


hanya laut, katamu, tempat ombak,
mengisahkan buih bibir pantai
dan cakrawala tempatmu menarik garis
untuk semua batas-batas impian


selebihnya, kau berkisah tentang
anak-anak nelayan di sepanjang pesisir
bernyanyi tentang cangkang kerang
tanpa sebutir mutiara di dalamnya

juga tentang perahu-perahu tanpa layar
dayung-dayung yang patah
burung-burung camar yang memekik
di antara debur ombak dan nyaris tak terdengar

semua kau kisahkan dengan fasih
mengalir seperti arus pasang
kadang membuatku hanyut
melihat samudra di kornea matamu

dan kadang aku melihatmu berdiri kokoh
seperti batu karang disaput cahaya matahari
begitu berkilau dan membuatku
harus mengenakan kacamata hitam

padahal terkadang aku ingin bertanya
pernahkah kau mengisahkan tentang diriku
ketika hari-hari kulepaskan bersamamu
hanya untuk melintasi dunia yang nyata

tapi aku hanya mendapatkan seulas senyum
merekah di sudut bibirmu tanpa pernah dapat
kuterjemahkan dengan kisah yang lain
sekedar kupahami sebagai seorang perempuan

tanpa pernah kau tahu, mungkin tak ingin tahu
jika aku sebenarnya berulangkali terdampar
di dalam kisah-kisahmu yang berulang-ulang
tanpa pernah juga kutahu awal dan akhirnya

mungkin setelah kita saling bertukar tempat
kau baru dapat memahami tentang sebuah hati
berkilau seperti sebutir mutiara
di dalam cangkang kerang yang tertutup




DPS 08 10 2015 - ilustrasi : na

TAK ADA WAKTU UNTUK BERBAGI




tak akan pernah dapat kaujamah sedikit pun
apa yang sudah menjadi milikku
sekalipun untuk mendapatkan remah-remahnya
dan kau berusaha membelah cermin
maka tak akan ada sekeping pun
yang dapat menggores apa yang telah kugariskan

berkacalah pada retakan-retakan waktumu
hingga kau akan tahu tak semua rajah
sampai di ujung jari untuk menunjuk
pada kodrat yang sama, meskipun
telah kau tumpahkan sisa anggur dalam gelas
sebab kau tak akan pernah tahu
bagaimana sebenarnya menuangkan sebuah hati


DPS 07 10 2015 - ilustrasi : na

ISPA CINTA


sudah kulampirkan seulas senyum
sebelum semua dituangkan
di malam-malam yang basah oleh mimpi
di mana setiap bisikan tak lagi
menyajikan desah yang resah


dan kau menyeringai dalam buai
ketika setiap kelakar membuatmu terbakar
oleh gairah yang membuatmu terjajar
: aku mencium harum mawar, katamu

aku mengumbar senyum yang hambar
sekedar penawar dengan tangan melingkar
untuk merengkuh gelisah yang menjarah
jika kau bukan lelaki yang membuncahkan
lapisan kesepian di ujung gaun

tanpa pernah kau tahu, jika ada duri
menjadi pernik-pernik di setiap lipatan malam
untuk kau temukan sebagai imbalan
jika kesetiaan ada di setiap kelopak harum mawarku

maka aku pun membiarkanmu
terpejam dengan seulas senyuman
tanpa kau tahu bau tubuhku
menjadi satu dengan tubuhmu
dan kita sama-sama menghirupnya
dengan lenguhan-lenguhan panjang
( tanpa kita perduli menjadi ispa
dalam setiap napas cinta... )



DPS 05 10 2015 - ilustrasi ; google

Kamis, 01 Oktober 2015

SIUL HUTAN TERBAKAR


tak kudengar lagi kisahmu
tentang burung-burung
memburu kebebasan
di antara bentangan langit biru
kecuali lengking yang parau
di antara sisa hutan terbakar


gumpalan-gumpalan asap
telah membalur dinding langit
menjadi begitu kelabu
dan kisah sayap-sayap burungmu
tak dapat mengibaskan
seluruh kepengapan
yang menyesakkan ruang dada

kini kau tak tahu lagi bagaimana
menghinggapi seluruh kisahmu
hanya pada setangkai ranting
tempat menunjukkan arah mata angin
karena semua telah menjadi bara
yang lebih tajam dari cakarmu

dan yang tersisa dari seluruh kisahmu
hanya lepuhan yang memanggang
hingga jauh ke ujung musim
tanpa pernah kau tahu kapan akan berganti
di mana kau dapat menyiulkan
semua harapan yang pernah tertunda




DPS 02 10 2015 - ilustrasi : NA

Minggu, 27 September 2015

DI SELANGKANGAN WAKTU


sudah kusetubuhi seluruh malam
impian demi impian berlahiran
aku bukanlah dewi kunti
yang melahirkan para pandawa
bukan pula gendari
yang melahirkan para kurawa
dan menciptatakan pertempuran
di padang kurusetra


sudah kuselangkangi semua siang
dari matahari terbit
hingga matahari terbenam
cahaya demi cahaya
telah menyiangi ketelanjangan
menciptakan peta pada lekuk tubuh
dan tak tersisa lagi bayangan

sudah selangkah lagi kulalui
kini aku berdiri di batas paling tepi
mungkin batas paling sunyi
di mana waktu melahirkan
segumpal daging tanpa susu ibu
mengering di sepanjang jalur
tempat hidup untuk terus diamini



DPS 28 09 2015 - ilustrasi ; google

Senin, 21 September 2015

REMANG-REMANG


lelaki itu masih menyimpan tubuhku
pada setiap igauannya
wajahnya sesepi malam
selalu berbisik penuh erangan


:berikan puisi untuk kawan tidurku

lelaki itu pun terlelap
pada setiap desah napasku
dan terguling dalam kelam


Denpasar 02 09 2015

SELINTAS


kau telah mengasap, begitu jauh
menyelimut seperti kabut kerinduan
tak juga dihembuskan oleh angin

di sini aku mengigil, mendekap
diri sendiri, meraba-raba jalan pulang
mengayun langkah setengah mengambang

di manakah jalur yang dulu
pernah kita lintasi bersama?
aku menunggumu di ujung waktu


DPS 21 09 2015

DI TEPI LANGIT


di tepi langit mana lagi
dapat kurentangkan gaunku
menjadi selendang pelangi
ketika gerimis mengabut
dan tak memberi tanda-tanda
seberkas cahaya


kini aku hanya terhampar
di atas permukaan bumi yang fana
menyusuri setiap kenistaan
tanpa sedikit pun dapat meratapinya
meskipun hanya sebagai penyesalan

tanganku tak dapat lagi memintal
setiap belaian penuh kasih sayang
kakiku tak dapat lagi melangkahi
setiap jejak ibu yang menyimpan surga
meskipun telah kubasuh dengan doa

di tepi langit mana lagi
aku dapat tengadah tanpa sekedip pun
mengerjapkan pelupuk mataku
untuk sekedar menatap dan menikmati
seluruh berkah cahaya sebagai karunia

kecuali kini, aku hanya dapat berdiri
di belakang bayang-bayangku sendiri
dan membiarkannya menjelma
menjadi apa saja tanpa perduli



DPS 22 09 2015 - ilustrasi : google

Rabu, 16 September 2015

WAKTU TERKAPAR



aku mencoba mengingatmu
di antara silsilah waktu
sekedar ingin bercumbu
bukan karena ingin merayu

tapi selalu saja kau bertanya
: "kapan itu?"

aku hanya dapat mendesah
mengingatmu dengan payah
begitu cepat semua berubah

: "waktu, tak ada ruang menunggu..."
bisikmu, di sela-sela waktu
ketika kita sama-sama membeku
semua percakapan menjadi benalu

dan bahasa-bahasa tubuh
tak dapat menyalin semua cerita
di mana setiap lekuknya
masih mengisahkan kisah yang sama

: "meskipun kita pernah menggumulinya,"
katamu dengan napas terengah.

( kita pun terkapar di ruang yang sama
dalam keheningan yang bersahaja... )


Denpasar 16 09 2015 - ilustrasi : google

Senin, 14 September 2015

JAWA POS EDISI 13 SEPTEMBER 2015

Puisi-puisiku tayang di
JAWA POS EDISI 13 SEPTEMBER 2015

- Parole
- Oase
- Sejauh-jauh Burung Terbang
- Senja di Bukit Kintamani



Dps 14 09 2015

Kamis, 10 September 2015

PEREMPUAN PEZIARAH


aku bukanlah maria, perempuan
yang melahirkan kesucian
aku hanyalah perempuan tak bergaun
dari sebuah peradaban di mana
aku melihat dunia dengan kacamata hitam


aku bukanlah bunda theresia, perempuan
yang merawat bangsal kehidupan
aku hanya perempuan pelintas zaman
dan pengekal perjanjian sebuah mahligai
aku melayaninya dengan pengabdian

aku bukanlah cleopatra, perempuan
yang merayu dan menelanjangi kekuasaan
aku hanyalah perempuan yang berdiam
dan bertahan untuk sebuah hakikat
aku menerimanya sebagai martabat

aku hanyalah perempuan peziarah
imajinasi yang dilepaskan dalam bayangan
ketika hasrat diabaikan dalam setiap impian
untuk sekadar menjamah kenyataan



DENPASAR 10 08 2015 - ilustrasi from google

Rabu, 09 September 2015

MENYULUT DUPA



menyulut ujung setangkai dupa
di pulau yang selalu mengepulkan doa
mengharumkan jagad nirwana
di mana para dewa menaburkan berkahnya

di sini kehidupan selalu mengasap
dalam napas ritual di seluruh banjar
di mana adat tempat segala mufakat
dikisahkan penuh harkat dan martabat

di sini tak perlu lagi bertanya
tempat menuju ke swargaloka
inilah sebuah negeri penuh cahaya
di mana cinta dan kasih ditasbihkannya


Dps 07 09 2015 - ilutrsi from google

MENGGUNTING KATARSIS




untuk apa menggunting dengan lurus
jika hanya membagi menjadi dua bagian
untuk apa menggunting dalam lipatan
jika hanya ingin melakukan penghianatan

siapakah brutus di antara kita
hanya untuk menjadi pontius pilatus
yang ingin mencuci tangan
di bokor yang penuh dengan darah

haruskah kita menjadi penyangkal
di atas meja perjamuan
hanya ketika mencuci kaki seorang pelacur
setelah mendengar ayam berkokok tiga kali

siapakah yang lebih suci
dan melempar batu
ke tubuh seorang pezinah
dan menyembunyikan tangan
di belakang punggung

mungkin ada saatnya kita tidak menggunting
dengan lurus di antara lipatan-lipatan kain
mungkin ada saatnya kita tidak mencuci tangan
hanya untuk melempar sebuah batu
dan mengamini diri kita sendiri


Denpasar 03 08 2015 – ilustrasi : google

MADAH DANGDUT





dangdut yang basah
membuatku mendesah
dalam goyang irama patah-patah
ah ah ah

rasa yang terjamah
itulah sebuah madah
jangan kau jelajah
dalam jiwa yang gundah
membuat rasa yang salah
menjadi hidup tak berhikmah
ah ah ah

: napas dangdut yang basah
lepaskan semua dengan pasrah
hingga penuh segala gairah
ah ah ah

Dps 28 08 2015 - ilustrasi : google

Minggu, 23 Agustus 2015

JAUH PANGGANG DARI API




apalagi yang harus kita panggang
untuk menghangatkan setiap pertemuan
jika ternyata selalu saja ada perbedaan
membuat kita berselisih paham

selalu saja kau berteriak
padahal aku telah diam
selalu saja kau tertawa
padahal aku sedang menangis

untuk apalagi api dinyalakan
jika tungku ada di seberang
tak ada lagi yang bisa kita tanak
kecuali jika ingin saling menyimak

sudah saatnya kita berdiang
untuk menanak semua kekhilafan
sebelum maaf menjadi ungkapan
penghapus semua penyesalan


Denpasar  22 08 2015-- ilustrasi:google

PERBATASAN KAUM


haruskah kemerdekaan itu
adalah mengibarkan
pakaian dalam dari kaumku

haruskah kebebasan itu
di bawah kepalan-kepalan
tangan dari kaummu

haruskah ada batas pemisah
antara kaummu dengan kaumku
hanya untuk menentukan sebuah langkah

kini aku hanya dapat mengibarkan gaunku
untuk membuat kepalamu tegak tengadah
membaca sejarah para keturunan

dan atas nama garis tradisi
kaumku hanyalah pelengkap sejarah
dari setiap impianmu
maka kini, di luar impian-impianmu

kami berdiri di garis batas pernyataan
bukan sebagai sebuah pemberontakan
tapi sebagai sebuah pemahaman
jika kita mempunyai hak yang sama
untuk berdiri di barisan terdepan





DPS 20 08 2015 - ilustrasi : google

Sabtu, 15 Agustus 2015

LELAKI DAN LABIRIN HUTAN TERBAKAR


kemanakah perginya burung-burung
setelah melepaskan sayap-sayap musim
ketika hutan terbakar oleh hembusan waktu
kecuali desah lirih seorang lelaki yang berjalan jauh
melintasi perbatasan-perbatasan impiannya


kini lelaki itu berdiri di tepi hutan waktu
menengadahkan kepala pada langit yang tak lagi biru
di sana ia melihat gumpalan-gumpalan kenangan
yang selalu berubah bentuk dan mengabut
di pelupuk matanya sehingga membuatnya tak percaya
pada kesetiaan untuk tetap menunggu

lelaki itu pun hanya dapat menekuri sisa langkahnya
pada sepatu sandal yang lusuh dan selalu menyeretnya
untuk menyusuri di mana sayap-sayap burung dilepaskan
setelah dilaluinya padang ilalang dan bukit-bukit berbunga
tetapi selalu saja ia merasa berada di tempat yang sama

lelaki itu pun menyadari, jika dirinya berada
di sebuah labirin hutan yang terbakar



DPS 15 08 2015 - ilustrasi : google

Jumat, 14 Agustus 2015

REBUNG MUDA




tunas yang tumbuh dari serumpun bambu
sebelum buku-bukunya terbaca
di mana daun-daun muda bertunas
dan pucuk-pucuknya disapa oleh angin
telah dituai di luar musim sebelum hujan

angin kering pun berhembus di antara bambu tua
berkisah tentang rebung sebelum berbumbung
telah dipetik anak-anak desa dengan perut membusung
hingga suara perut mereka terdengar di luar kampung
hanya dapat menyuap angin di pematang-pematang kering

mereka pun tumbuh menjadi rebung-rebung muda
tumbuh dengan liar di antara semak dan belukar
di mana ular-ular merayap sejauh kedalaman akar
tanpa perduli jika seluruh nalar menjadi tak wajar
yang tak bisa lagi ditawar oleh akal

dan rebung-rebung muda itu pun
menjadi racun menjalar sebagai
sebuah generasi yang terlempar
di luar musim di mana tumbuh dan terkapar

DPS 11 08 2015 - ilustrasi : google

PEREMPUAN PENYU



jika laut tak seteduh dan sebiru dahulu lagi
jika riaknya tak segemulai waktu yang lalu
jangan kau merasa terhempas
hanya oleh jarak pandang yang menjauh
di mana jejak masa kanak-kanak
menggaris di sepanjang pantai
dan setiapkali terhapus oleh lidah-lidah ombak
tapi kenanagan itu, tak akan pernah terhapus
selalu memanggilmu untuk kembali

seperti juga kisah penyu yang datang dan pergi
dan bertelur di antara kehangatan rumah-rumah pasir
di sana kita pun pernah merasakan kehangatan kasih
di antara hembusan angin dan nyiur yang melambai
seperti jemarimu yang selalu mengurai
anak-anak rambutku yang terberai

dan aku hanya dapat memejamkan mata
di antara kilasan-kilasan waktu, mengenang
kehangatan sentuhan bibir-bibir pantai
di mana tubuh kita pernah terurai
dalam tawa dan canda yang seolah tak usai

pada saat itu, kita tak perduli, jika negeri ini
penuh dengan asap cerutu
yang menjadi kabut di seluruh dataran
kecuali sebuah istana mungil di bukit hijau
tempat kita melepaskan seluruh sisa waktu
dan kita tak akan mengalpakan kisah itu
sebagai sebuah dongeng yang tak usai


 DPS 15 08 2015