Selasa, 18 Oktober 2016

PADA BINAR MATA


aku sudah tidur di luar malam
sebelum daun-daun berembun
bukan aku ingin menyiangi waktu
agar lebih cepat melangkah
tanpa bayang-bayang memanjang
hanya untuk mengukur-ukur usia


aku hanya ingin kau tahu jika matahari
membawa langit ke tepi barat
lebih cepat dari setiap prasangka
meninggalkan bulan pucat kesiangan
tanpa sempat aku mendengar sebuah dongeng
tentang masa kanak-kanak yang hilang

aku hanya ingin menemukan kembali
pada binar matanya, pada tawanya yang ceria
dan memanggilku ibu dengan sempurna
agar seluruh keperempuananku dapat kujamah
seperti ketika aku menanggalkan
seluruh gaunku pada malam pertama

: tanpa perlu kau mengerjapkan mata
(Untuk mempercayai kehadiranku... )


Denpasar 18 10 2016

Rabu, 12 Oktober 2016

DUA SISI


aku tak ingin menabur angin untuk menuai badai
tapi mengapa kau hembuskan dari setiap penjuru

lihatlah, musim menjadi begitu cepat berganti
aku tak ingin menjadi peramal cuaca
apalagi menentukan dan menjatuhkan sebuah pilihan
apakah kemarau atau hujan yang akan datang

tapi kau memilih bertandang, mematahkan buluh
dan memadamkam sumbu yang meredup
jangan kau sesali jika menjadi bayangan seumur hidup

seperti kemarau dan hujan,
kau akan selalu berada
di antara cahaya dan kegelapan
pada dua sisi kehidupan


Denpasar 25 08 2016

MENYIMPAN BADIK DALAM PERAHU

---catatan untuk Frans Nadjira


di manakah badik yang dulu kau simpan
setelah terdampar di pulau para dewa
aku melihat pelayaran sunyi di matamu
di antara bait-bait puisi yang kau tulis dan bacakan

kini aku melihatmu di atas singgasana waktu
pada setiap helai rambut yang memutih
di mana istri dan anak-anakmu mengurapinya
penuh ketabahan dan kesetiaan menunggu

ada saatnya memang menghunus badik
mendayung sampan di atas buih-buih ombak
ada saatnya menyarungkan harapan
ada saatnya tak lagi menggarami waktu

kini tinggal zikir untuk melantunkan doa
sebagai pelengkap seluruh perjalanan
di atas sajadah kehidupan yang membentang
sebagai rahmat yang penuh kelimpahan

setajam-tajamnya badik, lebih tajam sebuah doa
untuk menggoreskan keyakinan
seganas-ganasnya gelombang pasang
akhirnya akan terurai di pantai tujuan

Denpasar 05 09 2016 - ilustrasi from google

ORANG KASIM


tak perlu lagi kusalin seluruh malam
menyiangi rambut dengan gelungan

ada saatnya tubuh harus dilepaskan
membiarkan tangan menjarah setiap lekuk
dan kaki melepaskan nomor-nomor sepatu
tanpa perlu menghitung setiap jejak
sebagai awal atau akhir perjalanan

tak perlu kututup sudut mata lelaki itu
dengan memupur wajahku
dan mewarnai bibir dengan lipstik

aku tak akan pernah merasa tergadaikan
bila melemparnya
keluar dari lapisan-lapisan mimpiku
untuk menyelaput setiap rayuan
menjadi sebuah kepompong

aku tak pernah bersayap dan terbang
di antara desahan-desahan panjang

maka kubiarkan saja kejantanannya
menjadi lebih betina sebelum
kasip untuk disapa di luar harkatnya

kelak lelaki itu akan menemukan dirinya
sebagai orang kasim

Denpasar 23 09 2016

PENYULANG


ada sisa pantai di bibirku, berpasir
mengisahkan ombak dan buih-buihnya
juga garis cakrawala yang jauh
tempat melarungkan seluruh desah napasku
di antara gelombang pasang dan surut
kita selalu bertaut dan berpagut
meski waktu sudah lewat dan larut


ada sisa langit pada bola mataku, berpendar
di antara awan, gerimis dan pelangi
di bawah payung berwarna senja
kita bercermin pada setiap genangan
untuk kita lompati bersama dengan canda dan tawa
duduk di sebuah cafe, menyulang
seluruh desah napas perjalanan
tanpa perduli akan sampai atau tidak pada tujuan

di antara laut dan langit yang terbuka
di antara kebebasan dan harapan
pada jarak dan waktu yang terbentang
bayang-bayang semakin memanjang
menyetubuhi seluruh kenangan
tak perduli jika kekosongan demi kekosongan
menggoda penuh rayuan memabukkan
aku akan selalu mengisi dan menyulangnya
sampai pada tetes terakhir
menjelma serupa embun


Denpasar 03 10 2016 - ilustrasi from google

TERSISA


sudah kusimak seluruh kelam
malam apa lagi yang ingin kau pejamkan
bukan lelaki yang pejantan
bukan perempuan yang betina
ketika waktu sampai di ujung rambut


sudah saatnya memang melepas
semua lengan dari setiap genggaman
pada setiap langkah untuk diayunkan
dari ujung sepatu hingga tumit
tanpa menyisakan sebuah tapak
jika semua sudah tampak di kasat mata

tak perlu lagi menggandakan
semua keyakinan untuk sebuah tujuan
dan menghalalkan yang haram
untuk menyatukan langit dan bumi
dalam skala ingatan di mana cinta
harus diletakkan bukan untuk dinistakan

kau akhirnya hanya mengatakan
di luar keaminan. melampaui
sebuah mantra untuk tidak dirapalkan
: "aku percaya!" katamu
di antara napas birahi yang tersisa
tanpa perlu aku mempercayainya


Denpasar 07 10 2016