Jumat, 30 Desember 2016

DI LUAR PANGGUNG MALAM


Seorang aktor di halaman malam
Di bawah lampu cahaya kota
Memerankan kota di luar panggung

Suaranya yang basah dan serak
Mengisi rongga kelam
Persetubuhan gerak dan kata
Di antara pedagang kaki lima
Meninggalkan sunyi di sepanjang jalan raya

Di sana peradaban berlintasan
Sejumlah sandiwara membentang
Di balik layar hitam sebagai
Pembuka dan penutup cerita


TIM - Jakarta Medio Desember'16

Tak Terbatas

--untuk Frieda Amran


kabut akan selalu sirna
di bawah cahaya pagi
di mana kelopak mawar
selalu merekahkan harumnya
pada setiap kenangan

tak ada yang meranggas
selalu akan membias
dalam ikatan yang penuh ikhlas
tanpa ada yang teretas
di mana kasih tak terbatas

pada sayap kumbang
pada sayap kupu-kupu
di mana putik-putik sari
di mana setiap tetes madu
di mana tempat pernah berpadu
mengulum napas rindu
tak lekang oleh waktu

Denpasar 30 12 2016

Senin, 19 Desember 2016

TAK TERLAMPIRKAN


menggeliatkan pinggang malam
menabur uap dalam kantuk
kaukah kelak meniduriku dalam impian
agar aku lelap oleh desah napasmu


siang masih menyisa di pelupuk mata
di antara tidur dan jaga
tanpa pernah alpa menyapamu
bertukar aksara tanpa jeda
tanpa pernah ingin menamatkan
hanya dalam sebuah cerita

walau kadang ada kisah
tak terlampirkan dalam ungkapan
membuat kita terpejam
pada kesyahduan yang dalam
sebab kita tahu tak ada yang hilang
meskipun di sela sekerjapan mata

Denpasar 13 12 2016

DONGENG TANPA KISAH


mulutku sudah terkatup rapat
tak ada lagi pasword pembukanya
seranum dan sebinal apa pun bibirku
tak akan pernah lagi kau percaya
jika setiap desah bisikku
untuk dapat kau yakini
kecuali mengatakan
: "itu dusta! Fitnah!"


ada seekor naga kecil di mulutku
ketika kau berdongeng sejumlah naga besar
dengan lidah-lidah api yang menjulur
dan tanduknya menggores langit
sampai ke lapisan yang ke tujuh
tanpa pernah kau tahu
naga kecil itu memejamkan mata
mulutnya telah tersumbat ayat
membuatnya ternista bagi dirinya sendiri

kini seperti diriku, naga kecil itu
hanya dapat bersemayam dalam diam
tak dapat lagi melafaskan doa
meskipun untuk sekadar dimaafkan
kata pakai tanpa makna membuatnya
kehilangan seluruh cerita
aku tetap menimangnya dalam suka dan duka

Denpasar 01 12 2016

PENYANTUN


aku menyantunimu dengan napas cinta
bukan karena kau yatim atau piatu
meskipun aku hanya seorang duafa
tapi aku bukan seorang penista
hanya untuk menghujat setiap keyakinan


jangan pernah mengajariku memilih
jika kau sendiri tak punya pilihan
sebab kasihku disabdakan
bukan dari kesaksian-kesaksian palsu
di mana cinta selalu dikafirkan
dan diterjemahkan sebagai kealpaan

maka biarkan aku yang menafsirkan
agar kau tahu menjadi tersangka
tanpa pernah membuatmu menjadi terdakwa
jika kecemburuanmu menjadi berhala
dan kau menjadi penyembah cinta sia-sia

Denpasar,181116

PENYIMPAN LAUT


lelaki laut itu menyimpan kapal
anak-anak ombak dan pasir
di sini aku menjadi buih waktu
berlayar jauh dalam keriangan
berkumpul menyamakan warna kulit
tak perduli pada penyamak
melapisi setiap tawa dan canda
jika diharamkan setiap ayat


lelaki itu masih menyimpan laut
pada tubuhku yang kecil dan gelap
berlayar jauh dalam diriku
dan tahu di mana harus ditambatkan
bukan pada sesal dan perbuatan
menatap langit jingga di batas cakrawala
tempat lelaki laut memeta cerita

: "garam tak pernah
mengasinkan laut!" kisahnya
membuatku menjelma
cangkang kerang
tempat menyimpan gairah
semua perjalanan

Denpasar 22 11 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

PADA BINAR MATA


aku sudah tidur di luar malam
sebelum daun-daun berembun
bukan aku ingin menyiangi waktu
agar lebih cepat melangkah
tanpa bayang-bayang memanjang
hanya untuk mengukur-ukur usia


aku hanya ingin kau tahu jika matahari
membawa langit ke tepi barat
lebih cepat dari setiap prasangka
meninggalkan bulan pucat kesiangan
tanpa sempat aku mendengar sebuah dongeng
tentang masa kanak-kanak yang hilang

aku hanya ingin menemukan kembali
pada binar matanya, pada tawanya yang ceria
dan memanggilku ibu dengan sempurna
agar seluruh keperempuananku dapat kujamah
seperti ketika aku menanggalkan
seluruh gaunku pada malam pertama

: tanpa perlu kau mengerjapkan mata
(Untuk mempercayai kehadiranku... )


Denpasar 18 10 2016

Rabu, 12 Oktober 2016

DUA SISI


aku tak ingin menabur angin untuk menuai badai
tapi mengapa kau hembuskan dari setiap penjuru

lihatlah, musim menjadi begitu cepat berganti
aku tak ingin menjadi peramal cuaca
apalagi menentukan dan menjatuhkan sebuah pilihan
apakah kemarau atau hujan yang akan datang

tapi kau memilih bertandang, mematahkan buluh
dan memadamkam sumbu yang meredup
jangan kau sesali jika menjadi bayangan seumur hidup

seperti kemarau dan hujan,
kau akan selalu berada
di antara cahaya dan kegelapan
pada dua sisi kehidupan


Denpasar 25 08 2016

MENYIMPAN BADIK DALAM PERAHU

---catatan untuk Frans Nadjira


di manakah badik yang dulu kau simpan
setelah terdampar di pulau para dewa
aku melihat pelayaran sunyi di matamu
di antara bait-bait puisi yang kau tulis dan bacakan

kini aku melihatmu di atas singgasana waktu
pada setiap helai rambut yang memutih
di mana istri dan anak-anakmu mengurapinya
penuh ketabahan dan kesetiaan menunggu

ada saatnya memang menghunus badik
mendayung sampan di atas buih-buih ombak
ada saatnya menyarungkan harapan
ada saatnya tak lagi menggarami waktu

kini tinggal zikir untuk melantunkan doa
sebagai pelengkap seluruh perjalanan
di atas sajadah kehidupan yang membentang
sebagai rahmat yang penuh kelimpahan

setajam-tajamnya badik, lebih tajam sebuah doa
untuk menggoreskan keyakinan
seganas-ganasnya gelombang pasang
akhirnya akan terurai di pantai tujuan

Denpasar 05 09 2016 - ilustrasi from google

ORANG KASIM


tak perlu lagi kusalin seluruh malam
menyiangi rambut dengan gelungan

ada saatnya tubuh harus dilepaskan
membiarkan tangan menjarah setiap lekuk
dan kaki melepaskan nomor-nomor sepatu
tanpa perlu menghitung setiap jejak
sebagai awal atau akhir perjalanan

tak perlu kututup sudut mata lelaki itu
dengan memupur wajahku
dan mewarnai bibir dengan lipstik

aku tak akan pernah merasa tergadaikan
bila melemparnya
keluar dari lapisan-lapisan mimpiku
untuk menyelaput setiap rayuan
menjadi sebuah kepompong

aku tak pernah bersayap dan terbang
di antara desahan-desahan panjang

maka kubiarkan saja kejantanannya
menjadi lebih betina sebelum
kasip untuk disapa di luar harkatnya

kelak lelaki itu akan menemukan dirinya
sebagai orang kasim

Denpasar 23 09 2016

PENYULANG


ada sisa pantai di bibirku, berpasir
mengisahkan ombak dan buih-buihnya
juga garis cakrawala yang jauh
tempat melarungkan seluruh desah napasku
di antara gelombang pasang dan surut
kita selalu bertaut dan berpagut
meski waktu sudah lewat dan larut


ada sisa langit pada bola mataku, berpendar
di antara awan, gerimis dan pelangi
di bawah payung berwarna senja
kita bercermin pada setiap genangan
untuk kita lompati bersama dengan canda dan tawa
duduk di sebuah cafe, menyulang
seluruh desah napas perjalanan
tanpa perduli akan sampai atau tidak pada tujuan

di antara laut dan langit yang terbuka
di antara kebebasan dan harapan
pada jarak dan waktu yang terbentang
bayang-bayang semakin memanjang
menyetubuhi seluruh kenangan
tak perduli jika kekosongan demi kekosongan
menggoda penuh rayuan memabukkan
aku akan selalu mengisi dan menyulangnya
sampai pada tetes terakhir
menjelma serupa embun


Denpasar 03 10 2016 - ilustrasi from google

TERSISA


sudah kusimak seluruh kelam
malam apa lagi yang ingin kau pejamkan
bukan lelaki yang pejantan
bukan perempuan yang betina
ketika waktu sampai di ujung rambut


sudah saatnya memang melepas
semua lengan dari setiap genggaman
pada setiap langkah untuk diayunkan
dari ujung sepatu hingga tumit
tanpa menyisakan sebuah tapak
jika semua sudah tampak di kasat mata

tak perlu lagi menggandakan
semua keyakinan untuk sebuah tujuan
dan menghalalkan yang haram
untuk menyatukan langit dan bumi
dalam skala ingatan di mana cinta
harus diletakkan bukan untuk dinistakan

kau akhirnya hanya mengatakan
di luar keaminan. melampaui
sebuah mantra untuk tidak dirapalkan
: "aku percaya!" katamu
di antara napas birahi yang tersisa
tanpa perlu aku mempercayainya


Denpasar 07 10 2016

Sabtu, 17 September 2016

RABIES



Anjing itu masuk lewat jendela
Mengunci lolongannya
Di pintu yang tertutup
Tanpa memberi isyarat jenis kelamin
Sebelum menjilati seisi rumah
Aku mengusirnya dengan erangan

Anjing itu menyelinap pergi
Dengan kaki mengangkang
Menyisakan gigitan di tumit anak

Tapi rabies itu masih tersimpan
Dalam percakapan penuh kecemasan
Dan membiarkan antibiotika
Mengobati semua penyesalan
Sebelun anjing itu tidur dalam setiap impian

Denpasar 17 09 2016

Minggu, 14 Agustus 2016

LUPUT




ada saatnya telapak tangan terbuka
melepas apa yang tergenggam
ada saatnya apa yang diraih
untuk kembali dilepaskan

jika semua tak harus diramalkan
bukan disebabkan garis tangan
untuk disusuri dengan perhitungan
selalu ada yang terabaikan dari ingatan

terlepas atau tergenggam
mungkin memang bukan sebuah pilihan
meskipun semua sudah dipertaruhkan
dan luput dari awal dan akhir tujuan

Denpasar 13 08 2016 - ilustrasi from google

Rabu, 10 Agustus 2016

HABIS MANIS SEPAH DIBUANG



buah bibir yang dulu kau kulum
dalam setiap percakapan
kini tinggal sepah di antara serapah


tak ada lagi yang dapat kau sebutkan
apalagi sebuah nama untuk dikenang
seluruh bayangan tak ubahnya cermin kelam
jika masa lalu adalah bagian tak terpisahkan
tanpa seberkas cahaya pun untuk menepisnya

“itu ilusi!" gumammu setelah malam
kau lepaskan semua keperempuanku
seperti seonggok daging di ranjang

tanpa denyut dan membusuk dalam keheningan
kesepian pun menyengat pada sisa napasku
tapi tak juga terumbar dari celah bibirmu kata maaf
mungkin aku khilaf memahami puncak desahmu
ketika mendengar pekikanmu yang tertahan

(ternyata hanya kepak sayap keluang di luar sana... )
dan aku teronggok seperti sampah di sudut malam


Denpasar 08 08 2016

Jumat, 15 Juli 2016

GOYANG DANGDUT


coba kau ingat-ingat irama dangdut itu
meliukkan setiap lekuk pinggulku
kedua ujung jari telunjuk kita pun menggelitik udara
menggelinjangkan suasana pada setiap langkah
melewati dunia yang nyata untuk tidak selalu terjaga
membuat hidup menjadi lebih sederhana


tabuhkan gendang, tiupkan seruling
dalam setiap hentakan dan ayunkan badan
biarkan pinggang malam dirangkul kelam
masih banyak impian untuk dicumbu
sebelum bulan kesiangan
menjadi pungguk di hari memabukkan
jika kau memang seorang pejantan
bukan sebagai pecundang


Denpasar 15 07 2016

Selasa, 12 Juli 2016

JINAK-JINAK MERPATI


sekarang aku lebih jinak dari merpati
meskipun tak lagi bersayap langit
juga tanpa perduli ke mana harus terbang
meskipun ada ranting pohon tempat berpijak
tapi aku bisa kabarkan padamu
tentang jarak yang membentang tanpa batas


mungkin jinakku adalah jinak merpati
birahiku tak akan pernah dapat kau tangkap
meskipun aku telah mendekat dan kau silap
dengan ilusi yang mengendap untuk mendekap
tapi mendapatkan sisa-sisa sayap terlepas
di antara napasmu yang terkuras

sekarang aku mungkin jinak-jinak merpati
bukan dapat terbang rendah atau tinggi
kecuali sebagai naluri untuk tak dikebiri
jika kebebasan lebih berarti dari sebuah hati
dan kesetiaan itu memang abadi


Denpasar 10 07 2016 - ilustrasi from google

Minggu, 10 Juli 2016

PSIKOPAT




 --Kolaborasi bersama Maya Azeezah--

PSIKOPAT I
karya : Maya Azeezah

menatap gayamu menyuluh sebatang cerutu
dan sebuah pemantik di hadapmu
nyala baranya seperti kama yang kau mainkan
pada satu tubuh semalaman


hirup cerupan pertama begitu dalam
mengakhiri puncak kepuasan
sedalam rasa yang kau tumpahkan
pada tubuh perempuan lugu yang kau serang

kau lelaki bercerutu tak kenal durhaka
gagahi setiap raga dara nan bening
bermodal puluhan lembar rupiah
dan janji segelas anggur merah

ingat ! tawamu bukan akhir dari kebejatan
tetapi awal dari semburan karma
sebagai hukuman berjalan yang mutlak
kepada anak daramu yang kau simpan di rumah

‪#‎MayaAzeezah09072016‬



 PSIKOPAT II
Karya: Nunung Noor El Niel

aku telah memperkosa setiap musim
mengkorupsi sebuah hati
dan memperkosa semua impian

aku adalah bayangan yang selalu
menyelinap di antara kebenaran dan kekhilafan
berada pada cahaya dan kegelapan

aku akan membuatmu atau siapa saja
dalam kesangsian jiwa-jiwa yang kosong
di sana aku berdiam dalam keabadian


 #NunungNoorElNiel09072016‬

Sabtu, 02 Juli 2016

KODRAD YANG DIGAUNKAN



Seperti burung-burung yang terbang di udara
Waktu serasa bersayap angin mengepak
Berhembus bersama awan-awan
Menciptakan mendung di sudut-sudut langit

Tak dapat lagi kuputar seluruh waktu
seperti sebuah haluan menjadi buritan
Setelah terlanjur kutahu, jika di palka
Masih ada laut menyimpan gelombang
Ternyata ada yang tak pernah tersandarkan

Tetapi bukan harapan, juga bukan keputusasaan
Bukan juga sebuah catatan harian tak terbaca
Untuk terus dihafalkan sebagai cerita
Tanpa awal dan akhir untuk selalu dikisahkan

Sudah telalu lama aku menjelmakan diriku
Menjadi peri untuk semua impian
Ketika kutahu tak ada bulan di ranting malam
Dan matahari membatangkan siangnya
Aku hanya ingin kelembutan dan kehangatannya

Maka biarlah, langit, laut dengan kisahnya sendiri
Malam dan siang menjadi peristiwa ruang dan waktu
Di mana aku terjaga dan terlelap, jika kodratku
Telah digaunkan bukan untuk dicabikan dan dinistakan

DENPASAR 29 06 2016 - ilustrasi from google

Jumat, 24 Juni 2016

NAPAS PUISI


aku ingin tetap bersamamu
menyusuri kelengangan
dengan napas puisi tak selesai ditulis

sekalipun hari terasa begitu jingga
dengan dada selalu terbuka
pada keikhlasan memberi dan menerima

seperti awal dan akhirnya
di mana kita saling menyapa
penuh kasih dan cinta melebihi segalanya


Denpasar 21 06 2016

MENGURAI BENANG YANG KUSUT



apakah aku harus terus mengurai
setiap benang yang kusut agar tak putus
hingga menjeratku sendiri
tanpa pernah kutahu lagi
di mana ujung dan pangkalnya

sudah kujalin rambutku, meskipun
di antara retakan-retakan cermin
meskipun bayanganku tak lagi sempurna
tapi masih ada yang utuh tersimpan
untuk kelak kupersembahkan

mungkin pada sebilah waktu
cahaya itu akan mengurapi
setiap kekhilafan
bukan hanya menjadi bayangan
tapi keinsyafan

dan aku akan tahu bagaimana
mengurai yang tak kusut
juga aku akan tahu
mana tak berujung dan berpangkal
dengan kerendahan sebuah hati

Denpasar 24 06 2016 - ilustrasi from google

SEROMBOTAN


mungkin aku tak perlu berkisah
menyajikan menu puputan
dari tanah kelungkung
penuh dibumbui napas tradisi


: "srombotan!" katamu
ketika kulihat kau menyiangi
daun-daun hijau
kacang-kacangan
dengan bahasa santan
kau taburkan di atasnya

selera pun tumbuh di atasnya
penuh spritualitas cinta
sebagai persembahan
di seluruh tanah para dewata

: "serombotan." kataku
tanpa pernah berhenti mengunyah
dan melahapnya sampai tandas
tanpa menyisakan kata yang tuntas
untuk memuja setiap rasa
bukan hanya sebagai berhala
tapi memang demikianlah adanya


Denpasar 13 06 2016


---------
Catatan:
Serombotan makanan khas Bali dari Klungkung.

KELUNGKUNG TANAH LELUHUR


di sini di tanah para leluhur
napas para dewa tak berhenti berhembus
ke seluruh negeri menjaga tradisi

di sini, di tanah klungkung yang subur
kubur-kubur telah menjadi panji perlawanan
meskipun tubuh telah berkalang tanah
tapi ruh tak pernah mati

di sini, di tanah para leluhur
gamelan tak pernah berhenti ditabuhkan
dari seluruh banjar-banjar sebagai ikrar
di mana adat dan kesetiaan
selalu dipersembahkan dengan keikhlasan

di sini, di tanah kelungkung
akan selalu terdengar setiap pekikan
sebagai sabda para kesatria
di mana setiap jengkal tanah
untuk tetap dipertahankan

di sini di tanah leluhur
di sini di tanah kelungkung
ada sejarah yang diwariskan
tak akan pernah selesai dibaca
sampai pada akhir zaman


Denpasar 25 06 2016

Kamis, 23 Juni 2016

PUPUTAN KLUNGKUNG


di tanah moyang kami bediang
menyalakan dupa menabuhkan gamelan
memanggil seluruh roh para dewa
dengan doa berhembuskan mantra-mantra
hingga seluruh ruang dada penuh dengan bara
di mana kami harus berjaga-jaga
di sepanjang garis sejarah tanah leluhur
dan sejengkal pun kami tak pernah mundur

jika kami gugur di tanah leluhur
biarlah tulang dan darah kami jadi penyubur
agar anak dan cucu kami lebih makmur
tanpa menyesal jika nasi pun menjadi bubur
bli, mari angkat sarungmu, hunuskan kerismu
acungkan setinggi-tingginya di atas kepala
di mana harkat dan martabatmu
dipertaruhkan di bawah langit peradaban

"puputan! puputan! puputan!"
adalah pekikan ayam jantan di medan pertaruhan
bukan sekadar nasib yang diperjudikan
tapi hikayat yang akan dituliskan di batang lontar
dan dibaca seluruh anak-anak tradisi
bukan sekadar kesaksian tapi perbuatan


Denpasar, 06 06 2016

Rabu, 22 Juni 2016

BERSENDA WAKTU


berceritalah, katamu di antara sisa waktu
ketika siang belum juga selesai memanggang
apa yang harus terbilang dari setiap ungkapan

seperti biasanya, katamu tanpa awal atau akhir kisah
di mana semua peristiwa datang dan pergi
dapat menjelma apa saja tanpa perduli
tanpa seorang tokoh di dalamnya

maka aku pun menjelma perempuan
menggeliat dalam setiap bentuk dan lekukan
agar kau dapat menandai setiap rayuan
bukan semata sebagai kebinalan

kini kau dan aku pun tak lagi punya alasan
menggumuli setiap erangan sebagai pelampiasan
di jalan-jalan yang penuh kelengangan
untuk menyusun setiap daftar perselingkuhan

tersebab kita telah berdiri di luar waktu
untuk tak sekadar lagi menunggu-nunggu
apalagi untuk bersua dan bertemu
di mana kita selalu bersenda dan bercumbu


Denpasar 14 jun 2016 - ilustrasi from google

NUH


sudah kau ciptakan sebuah bahtera
dengan sebuah sabda untuk menyelimuti
dan membasuh seluruh permukaan bumi
ketika apa yang kau ciptakan berpaling
mengazab di atas angkara murka


empat puluh hari siang dan malam
dari pintu-pintu langit yang terbuka
hujan kutukan itu pun kau tumpahkan
menenggelamkan gunung-gunung
dan membiarkan bahteramu mengapung
menyusuri kehidupan baru

setelah kau melepas seekor merpati
yang kemudian tak kembali
kau pun membuka pintu-pintu bahtera
dan membiarkan mahluk berpasang-pasangan
yang haram dan tak haram
menyusuri kembali permukaan bumi
di bawah busur lengkung pelangi


Denpasar 19 06 2016

Jumat, 03 Juni 2016

RAMBUT SAMA HITAM KULIT SAMA COKLAT


RAMBUT SAMA HITAM
KULIT SAMA COKLAT

rambut adalah mahkota, katamu
sudah kusisir lebih legam dari malam
tapi mengapa kau masih juga bertanya
apakah lebih panjang atau pendek
dan mengukur setiap helainya
jika setiap incinya seperti isi kepalamu

mengapa kau selalu menguliti
setiap lapisan kulit seperti
menguliti setiap lapisan pertanyaan
apakah lebih tipis dan lebih tebal
warna coklatnya seperti warna kulitmu

rambut boleh sama-sama hitam
kulit boleh sama-sama coklat
tapi aku tak ingin menjadi rasis
hanya untuk menjadi narsis
mengukur setiap perbedaan
untuk menjalin sebuah kebersamaan

Denpasar 31 05 2016 - ilustrasi : google-na

Jumat, 20 Mei 2016

BATAS PANDANG


apakah hanya laut yang berkisah tentang ombak,
pada garis pantai dan cakrawala
apakah hanya para pelaut yang berkisah tentang
ikan-ikan dan bau garam di udara
perjalanan penuh petualangan


aku seringkali menatap begitu jauh
melampaui batas tatapan
meninggalkan jasadku termangu
di mana waktu yang membentang
membuaku menyusuri rajah tangan sendiri

selalu memang ada yang datang
juga ada yang pergi
selalu memang ada kenangan
juga ada yang untuk dialpakan
agar aku tetap dapat bertahan

seperti ombak menggulung ke pantai
dan terurai di atas pasir
sejauh perjalanan melepaskan diri
terdampar juga dalam kesetiaan, tak perduli
menjadi cangkang kerang atau karang



Denpasar 20 05 2016 - ilustrasi : google

Kamis, 19 Mei 2016

CEPAT SAJI

kau seperti sayur asem
di bawah matahari terik
kunikmati dengan ikan asin
dicolek dengan sambal terasi
dengan nasi putih mengepul


tapi kau masih bertanya juga tentang jengkol
tumis kangkung dan pete
untuk disajikan pada hari-hari berikutnya
seperti menyajikan mimpi di warung tegal

kau pun berkisah tukang gado-gado
mengulek pinggulnya di ujung gang
sambil mendengarkan irama dangdut
dari getjet kreditan yang tertunggak

hidup seperti asinan, kataku
dan kau memelet-meletkan lidah
dengan hidung meler dan mata berair
bukan karena tangisan tapi panasnya cabe rawit
di rongga mulut mengepulkan desah
berkepanjangan karena napsu yang terbakar

akhirnya kau memilih menu cepat saji
seperti cinta di rumah bordil
keluar pada malam hari dengan selangkangan terbuka
tentang mimpi buruk raja singa

padahal kau inginkan tato kelinci
di lengan sebelah kanan
dengan lipatan-lipatan otot lelaki
tapi kau lupa jika dadamu
penuh tulang rusuk yang kering
seperti papan penggilesan
karena hidup yang pas-pasan

sebab hidup tak lagi punya pilihan
juga tak punya harapan
kecuali petualangan
di gang-gang kampung
di pusat kota sebagai pecundang



DPS 07 04 2016

TAK PEPAT


ada senja di bibirmu
merekah dalam warna jingga
bergetar mencumbu sisa waktu
tanpa pernah dapat kulumat
dan mengulumnya dengan penuh hasrat


rayuanku selalu saja tersekat
sebelum bibir langit barat terkatup rapat
ketika kau terlambat merapat
untuk dapat kupeluk erat-erat
di mana kita dapat bersidekap

tapi tak kubiarkan menjadi pepat
sebab kutahu meskipun jauh kau dekat


Denpasar 17 05 2016

Jumat, 13 Mei 2016

GADIS REMAJA DI LUAR PERADABAN


-- yuyun


gadis remaja itu telah bersemayam dalam diam
suaranya yang lembut dan manja lenyap sudah
duka yang dalam telah mengubur semua impiannya
bersama jasadnya, nista itu mengkafani dirinya
sebagai tumbal dari sebuah peradaban yang mabuk


gadis remaja itu seperti gadis remaja lainnya
tak dapat lagi menyembunyikan keperawanannya
di mana kodratnya sebagai seorang perempuan
telah tersingkap dan terintai di balik peradaban
di mana harga diri dan martabatnya dipertaruhkan

gadis remaja itu telah diperkosa oleh peradaban
di mana kita hanya dapat menyaksikan
setiap peristiwa sebagai sebuah kelalaian
hanya sebagai saksi untuk setiap penyesalan
dan diaminkannya di luar batas doa dan keyakinan



Denpasar 13 05 2016

Mimpi Kering dan Mimpi Basah


malam adalah ranjang yang terbuka
tempat seluruh mimpi dilelapkan
dengan dan tanpa rahasia ketika terjaga

apakah mimpi basah atau mimpi kering
tak perlu kau terjemahkan karena ada musimnya
kecuali jika sudah dan belum akhil baliq

Denpasar 07 05 2016

BILANGAN TAK TERHINGGA


kita pun kembali terdampar
pada sisa waktu yang terumbar
tanpa pernah kau tahu
jika aku telah melampaui waktu
agar kau dapat menjamah
seluruh lekuk rindu pada tubuhku


lihatlah, aku tak pernah malu
menelanjangi semua pertemuan
meskipun terkadang alpa
melepas setiap bibir dari desahan
tanpa sedikit pun perduli
jika harus menghisap setiap keyakinan
menelan pahit manisnya pertemuan

jarak tak jarang membuat kita tak bijak
kecuali mencuri setiap kesempatan
menjadi rangkaian ungkapan-ungkapan
dengan setiap lampiran sebagai alasan
hanya untuk melampiaskan kegagalan
jika sebuah impian terlepas dari genggaman

maka biarkan kita menyiangi keterjagaan
bukan ilusi dari sebuah halusinasi
bukan pula sebagai sebuah ilustrasi
di mana kata dan perbuatan
menjadi satu tindakan
di mana harapan dan kesetiaan
menjadi sebuah bilangan tak terhingga...
bukan sekadar perhitungan-perhitungan
untuk setiap pertemuan dan perpisahan
tapi keikhlasan memberi dan menerima


Denpasar, 04 05 2016

JADILAH


di manakah laut yang teduh
jika ombak menggulung
terhempas semua di tepian

di manakah sukma tersembunyi
jika raga terkulai
di antara angkara murka

di manakah tuhan sekalian alam
bagi jiwa-jiwa yang keruh
untuk dinubuatkan

tuhan kusebutkan nama-mu
dalam kepasrahan yang teguh
sesudah dan sebelum kuaminkan

dan atas seluruh kaumku
di atas semua keperempuanan
: jadilah!

Denpasar, 28 04 2016

Kamis, 12 Mei 2016

KETIKA BULAN KESIANGAN 1


hanya semalam, bulan kesiangan
tanpa kau tahu, gaun yang kukenakan
telah menjadi kelambu malam yang membentang
di sana kau pun melihatku sebagai sesosok bayangan
menggeliat dan meliuk dalam kekelaman


sejak saat itu kau mengenalku sebagai batari durga
bukan lagi sebagai dewi uma yang bertapa di lautan luas
gelombang demi gelombang keresahan, menggulung
hasrat demi hasrat membuih-buihkan naluri purbaku
hingga seluruh kahyangan terguncang di atas pelaminan

langit pun seketika menjadi lebih kelam dari malam
dan bulan kesiangan menuju ke peraduan
di mana percintaan tak dapat lagi merayu
semua kerinduan kecuali menghempaskan
aku dan kau dalam ketiadaan tanpa batas


Denpasar, 26 04 2016

Rabu, 11 Mei 2016

JEJAK-JEJAK LANGKAH


bukan aku ingin menghitung setiap langkah
juga untuk meninggalkan jejak-jejak kenangan
aku hanya ingin kau melihatku dari sisi yang lain
pada setiap jarak, pada setiap waktu
dan kau akan tahu jika tak ada yang berubah
hanya mungkin kerinduan yang membuat kita alpa


tidak ada yang perlu disesalkan dari sebuah jawaban
pucuk-pucuk bunga akan mekar menurut waktu
juga akan merekah sesuai dengan musimnya
dan ada saatnya gugur pada setiap tangkainya
tetapi itu bukan akhir dari segala peristiwa
semua akan kembali pada awalnya sediakala

seharusnya kau tetap percaya
jika keharuman cinta itu akan selalu semerbak
pada setiap langkah yang pernah kau lalui
kau akan tahu betapa indah menyusurinya
meskipun mungkin tak lagi memiliki setiap kelopak
sebagai penanda setiap impian jika
semua sudah menjadi lebih nyata dari sebelumnya

tak perlu kau menyebutku mawar atau apa pun
jika hanya tangkainya yang membuatmu terluka
tak perlu kau menyebutku melati seputih apa pun
jika hanya malam yang membuatku semerbak
tak perlu kau menyebutkan tentang kesetiaan
jika hanya perselingkuhan yang menjadi bagian

maka biarkan, jarak, ruang dan waktu menjadi
sesuai dengan apa yang kau dan aku mau
tanpa perlu harus mengerang dan berbisik
karena semua sudah menjadi satu dan tak terpisahkan
di mana untuk selamanya dan seterusnya berdiang
dalam sebuah keabadian tanpa batas


Denpasar, 20 april 2016

MIGRASI SEBUAH HATI


bukan aku memggusur bahasa yang kau ciptakan
aku hanya ingin berdiri di lain waktu
mungkin kita tak akan bertemu
udara sudah terlalu bertuba
untuk kita hirup bersama


biarkan sisa-sisa mimpi itu
di belakang punggung kita
untuk sekadar kita berpaling pada kenangan
tanpa perlu kembali memiliki

sebab mungkin kita perlu migrasi
meraih kembali harapan yang lebih abadi


Denpasar, 18 04 2016 - ilustrasi from google

CINTA DITOLAK DUKUN BERTINDAK


(seri Nyai Dasima 1)

nyai dasima dari tangerang
bodynya semok alang kepalang
siapa yang lihat matanya jalang
si bule inggris datang meminang


nyai dasima ibarat kembang
tak juga layu dihisap si kumbang
di batavia aromanya mengembang
membuat para lelaki imannya goyang

bang samiun si tukang sado
merasa kapiran kalau tak jodoh
bini pertama pun dinego
harta nyai dasima sebagai berkah

bang samiun pun menghalalkan cara
nyai dasima melihatnya sebelah mata
bang samiun merasa cintanya ditolak
tak ada pilihan dukun pun bertindak


Denpasar, 15 04 2016


‪#‎wait_for_theNextstory‬: Habis Manis Sepah Dibuang

SELEWATAN WAKTU


akhirnya hari itu aku datang juga meyapamu
dengan segala rindu untuk kita tumpahkan
dalam cumbu rayu, meskipun hanya selewatan waktu

akan kukenakan seluruh keperempuananku
sebelum kau menanggalkanya satu-satu
dan kita terengah kemudian bisu
sambil tersipu-sipu malu

: ah, kamu

DPS 14 04 2016 ilustrasi from google

Kamis, 14 April 2016

PUNGGUK BULAN


siapa yang melepas bulan
di selangkangan malam
hanya untuk merayu pungguk
dengan sejumput impian


lihatlah lelaki tambun itu
menjadi penyadap setiap kelam
dengan tubuh berlumut usia
setelah sepi menyianginya

kini lelaki itu menggigil memanggil
sebuah nama yang tak dikenalnya
untuk menyetubuhi kesepiannya
dengan ejakulasi dini tak terperi

maka sesal pun mengulitinya seperti
kurap yang tertabur dan menyebar
ke seluruh jiwanya dengan rasa gatal
tanpa sempat mencabiknya

lelaki itu pun menjadi pungguk
untuk semua impian
tanpa pernah tahu batas
antara siang dan malam


Denpasar 12 04 2016 - ilustrasi : google

Minggu, 27 Maret 2016

SISA RAGI


--untuk sahabatku SR --


masih ada percakapan untuk kita
meskipun berada di luar waktu bertemu
dan tak dapat bercemin-cermin muka
kita masih dapat memilah-milah rasa
dengan ungkapan-ungkapan sederhana


sungguh kita masih berbagi sisa ragi
di mana kita pernah tumbuh sebagai jamur
menelan seluruh tablet dan pil penelan duka
pada setiap langkah untuk tetap terjaga
ketika semua impian direbut dunia nyata

kita pun melayang seperti bayang-bayang
sekadar menyiasati setiap kesempatan
dan menyatu dengan kelamnya malam
tanpa perlu menyesali setiap perselingkuhan
sebagai sebuah jalan pintas memahami keadaan

tak ada siasat, tak ada jerat, kecuali sisa hasrat
menangkalkan seluruh waktu yang pekat
sebelum dilaknat tanpa harga diri dan martabat
kecuali menyimpannya sebagai berkat
di mana hajat hidup dimufakatkan dari kekhilafan

kini sisa ragi itu kita taburkan di atas senyuman
dengan kisah yang lain dan penuh kehangatan
di mana rasa damai itu kita lantunkan
dalam sebuah pertemuan persulangan
tempat kita mereguk sebuah kemenangan
di jalan illahi yang sudah lama kita tambatkan



DPS 26 03 2016 - ilustrasi : google

Puisi Malam

belahan malam di antara hembusan angin
berputar di dalam kamar
puting beliung itu tak juga reda
membuatku hanya menggeliat di kursi
merentangkan tubuh seraya tengadah

cahaya dan ranjang di belakang punggung
hanya menyinari bantal, guling dan selimut
ada malam membentang di sana
meminta impian untuk dilunaskan

tapi bayangku masih memantul di layar lcd
menyusuri dunia yang maya tanpa akhir
dengan qouta waktu yang masih tersisa
mencarimu yang selalu lenyap
ketika rindu belum juga usai bersitatap

maka aku tetap menunggumu agar tak silap
meski hanya bercumbu dalam sekejab
dan aku menerimanya dengan ikhlas

DPS 24 Maret 2016

Rabu, 23 Maret 2016

ANAK KUNCI


masih juga kau bertukar wajah
padahal aku hanya menyalin waktu
dan bertanya tentang kupu-kupu
bagaimana menanggalkan sayapnya
di antara bunga-bunga

: "aku cemburu," katamu

kau pun membentang lukisan pelangi tanpa warna
dan membiarkan diriku meretas kelopak-kelopak bunga
ketika kau tak dapat lagi mencecap harumnya
tanpa pernah kau tahu jika tangkai duri itu
mencambuk setiap kerinduan menjadi penyesalan

: "bukan kenangan?" katamu sambil mengulum senyum

aku hanya dapat mengerjabkan mata
selebihnya, menyisir dan menggelung rambut
menyimpan cermin di balik gaun
dan melangkah tanpa menyisakan jejak
tanpa perduli, apakah kau masih berada
di balik pintu yang tertutup atau terbuka

aku tahu kau masih memegang anak kunci itu
di mana rahasia kita selalu tersimpan
(aku percaya kau tak pernah melepasnya....)

Denpasar, 22 03 2016 - ilustrasi : google

BERJUBAH BULU DOMBA



kemanakah perginya para lelaki
mengapa mereka meninggalkan
jubah-jubah bulu dombanya
di bawah bayangan sisa gerhana
apakah mereka telah menjelma srigala
dan mengendap-endap di sudut kota

masih kurasakan kebuasan rayuan mereka
dengan lolongan-lolongan yang panjang
di mana mereka mencumbu semua impianku
sehingga aku hanya dapat mengerang
dan melenguhkan setiap desahan tertahan

tanpa sedikit pun memberiku ruang imajinasi
agar aku dapat berlari ke batas cakrawala
dan melepaskan seluruh gaun yang kukenakan
dan mereka dapat mengukur setiap lapisan
lekukan-lekukkan pada tubuhku
jika aku bukanlah sekadar seorang perempuan
melainkan seorang ibu yang melahirkan segala impian

tapi mereka masih saja terus melolong-lolong
dan membaui tubuhku hanya sebagai sekerat daging
untuk mereka kunyah dengan penuh nafsu birahi
meskipun gerhana telah pudar dan langit terbuka
dan mereka mengenakan kembali
jubah-jubah bulu domba dari sampiran-sampiran malam

maka aku pun hanya dapat merapalkan sebuah mantra
sebagai kutukan untuk tidak menajiskan diriku
meskipun mungkin aku bukan perempuan pilihan
untuk dilahirkan pada sebuah dunia yang nyata
: jadilah!

Denpasar 16 03 2016 - ilustrasi : google

puisi3baris GERHANA

1/ GERHANA

ranjang langit menyibak gelap
perselingkuhan bulan dan matahari
: gerhana!

2/ ZIKIR GERHANA

aku bulan kau matahari
kita bercinta di galaksi
menunaikan ibadah alami

3/ BAYANG-BAYANG

akulah matahari penguasa cahaya
akulah bulan penguasa kelembutan
memantulkan bayang-bayang

4/ LESUNG

tabuhkan lesung di seluruh kampung
bulan menelan matahari
napas tradisi menabuhkan segala sangsi


5/ GERHANA HATI

perselingkuhan langit meliukan gelisah
merabunkan pelupuk mata
menciptakan gerhana di hatiku



Denpasar 15 Maret 2016

PERSELINGKUHAN LANGIT DUA

perseligkuhan langit
antara bulan dan matahari
di ranjang yang gelap
bercincin cahaya
melahirkan putaran bumi
di antara galaksi-galaksi
orgasme alam


: gerhana! gerhana!
sorak sorai itu

kacamata hitam
memantulkan bayangan
tanpa jenis kelamin
pejantan dan betina
di bumi tempat berpijak

perselingkuhan langit
di antara mitos dan tradisi
menunggu gerhana kembali
membawa kisah lain
bukan sebagai dongeng
: percintaan alam yang gaib

Denpasar 11 03 2016

JALUR SUTRA


di balik kulit ras yang mengelupas
di antara kain sutra dan minyak zaitun
peradaban tumpah dan mengalirkan sejarah
tapi mengapa bisikan-bisikan liar itu
menghembuskan kebencian
haruskah menenun kembali setiap ikatan
dari cawan anggur darah hanya untuk bersulang


jalur sutra itu kini tinggal sebuah lagenda
dari sebuah perjalanan panjang yang terputus
hanya menyisakan jejak-jejak kaum musafir
dengan tiang-tiang pancang dari sebuah daratan
di mana setiap batas menjadi sebuah koloni
hanya untuk memasung setiap keyakinan
sebagai sebuah peradaban baru dalam kepompong
tanpa pernah meretasnya menjadi kupu-kupu

lalu di mana lagi jazirah musim bunga tempat bersemi
dapat dihirup seluruh anak bangsa di luar warna kulit
kecuali melepuhkan dengan pengingkaran
setelah setiap ayat diaminkan sebagai perumpamaan
tanpa dapat menentukan sebuah pilihan
dan setiap perempuan menyalin setiap harapan
hanya dari ujung gaun yang dikenakan

maka kini biarkan serbuk sari bunga itu dihembuskan
keseluruh penjuru mata angin, meskipun
tanpa sayap kupu-kupu di sepanjang jalur sutra
tempat peradaban itu berawal dan berakhir
bukan lagi hanya untuk kaum musafir


Denpasar, 05 02 2016

PANTANG MENJILAT LUDAH SENDIRI





bukan aku ingin sucikan setiap musim
ketika tak kukenakan gaun keperempuananku
aku hanya ingin melangkah lebih cepat di depan waktu
sebelum seluruh riasku melepuh dari seluruh tubuh
tempat di mana cermin selalu dipantulkan
bukan untuk dibasuh hanya dengan kenistaan

jangan pernah kau menghitung setiap desah napasku
jika jantungku berdetak lebih keras memburu
dan kau terjemahkan dengan gairah yang palsu
seandainya kau mengenal setiap bisikan-bisikanku
untuk menajiskan setiap kata yang terlanjur diludahkan
pantang bagiku menjilat kembali dengan lidah yang sama

sungguh bagiku mengulum kata bukan sekadar rayuan
penghisap setiap kejantanan dan mendengar eranganmu
sebagai pemujaan padahal kutahu kau hanya menguapkan
udara di antara waktu yang tersisa di mana kita
hanyalah sisipan-sisipan setiap percakapan ruang kosong

: sebelum kita menutup kartu yang sama

Denpasar 03 03 2016 - ilustrasi : ghoogle

PETITIH


sudah kau tegakkan benang yang basah
masih juga mencoba mencampur minyak dengan air
padahal kau tahu sudah kepalang basah
masih juga ingin menepuk air di pendulangan


jangan salahkan rusak susu sebelanga
hanya karena nila setitik
jangan salahkan bunda mengandung
hanya karena nasib tak beruntung


Denpasar 29 02 2016

Lelaki yang Terhempas


lelaki yang menyimpan malam
menyisakan kedalaman laut
terhempas di tepi usia dengan garam di sudut bibir
mengunyah kelamnya gairah dalam percakapan


lelaki itu hanya dapat mencumbui bayangan
dengan erangan-erangan tertahan
di mana cinta disuguhkan dalam kemasan
sebagai sebuah penawar gariah yang terhambat

lelaki itu telah berlabuh di sebuah pantai tak bertepi
di sana hanya ditemukan cankang kerang
membuatnya menjelma seekor siput yang melata
di antara bongkahan karang yang menjulang

lelaki itu pun kehilangan peta perjalanan
menunggu jawaban yang tak pasti
kecuali menunggu angin berhembus
untuk membuka semua layar sisa impian



Denpasar 27 02 2016

HARKAT








mengapa harus bertopang pipi
karena mendung di luar sana
apakah selembar tiket itu
tak pernah sampai di atas meja
tentang sebuah perjalanan

mengapa harus bertopang dagu
dan duduk termangu di sebuah bangku
apakah tak ada lagi tempat menunggu
meskipun di selasar waktu
untuk sekadar saling bercumbu

padahal kau tahu bagaimana
menyingkapkan seluruh rindu
sebelum tumbuh menjadi benalu
dan cemburu membakar hasrat
menjadi musuh di balik belikat

maka biarkan kini semua khianat
menyayat setiap martabat
jika cinta bukan lagi hakikat
di mana kesetiaan menjadi jerat
apalagi menjadi malaikat penyelamat

meskipun yang tersisa kelak
hanya sebatas harkat untuk dibaca
bukan sebagai hikayat
di antara puisi dan prosa
tersimpan kebebasan seluruh makna

: terjemahkanlah....

Denpasar 26 02 2016 - ilustrasi : google

PUISI KARTINI

KARTINI

aku membaca menjadi perempuan
aku menulis menjadi perempuan
aku membaca dan menulis
menjadi ibu dari semua perempuan



Denpasar 10 03 2016

 --------------


2/ HABIS GELAP


surat-suratku mungkin tak pernah sampai
ke dalam impian-impianmu
tapi aku berharap kau tetap terjaga
dan menunggu suratku akan tiba
untuk kau baca, meskipun mungkin
melalui pos waktu dengan kisah
serta zaman yang mungkin berbeda


di dalam kegelapan ini aku hanya dapat
mencatat, di bawah lampu uplik
untuk menerangi seluruh adat di mana kami
harus berjalan bersijingkat
di antara lipitan-lipitan kain tanpa perlu bertanya
di mana harus bersimpuh sebagai kodrat

surat-suratku dari gelapnya waktu
tapi aku percaya kelak semua akan berlalu
dan kau akan membacanya
dalam cahaya yang terang

Denpasar 19 mar 2016
-----



3/ TERBITLAH TERANG

ada gelap ada terang
aku sudah membaca suratmu
di antara lembaran waktu
setiap kata adalah makna
dan terbit dalam terang


akulah perempuan sepertimu
yang berdiri di antara cahaya
di mana pintu peradaban
tak lagi berdiri di belakang
dan kita akan melangkah
menuju masa depan

di sana semua impian perempuan
akan dilahirkan dalam keagungan

Denpasar 19 mar 2016