Senin, 29 Desember 2014

KANGEN


aku melayat ruang dan waktu
di antara hujan tiket yang kukremasi

menunggu waktu luang
untuk berkemas dengan
sisa kemarahanmu
yang berujung cumbuan

: kangen..



DPS 29 12 2014

DENYUT



jalan rahasia itu sudah begitu jauh kita tempuh
setapak demi setapak, kerikil dan bongkahan batu
kita lalui dengan harapan dan impian
kadang membuat kita rapuh dan ingin kembali
tapi masa lalu itu sudah menjauh di balik punggung
tak dapat membuat berpaling sedikit pun

hanya airmata, sapaan, genggaman tangan
bisikan-bisikan liar, membuat kita bertahan
dan terus melangkah mengikuti arus waktu
untuk terus hanyut, berdenyut, meskipun kadang
begitu singkat membuat kita tersekat
dari ruang-ruang pertemuan dari makna yang hilang

berulangkali, berulangkali kita merebutnya kembali
dengan canda dan tawa sebagai pelepas
beban kerinduan yang memadat agar mengkristal
menjadi permata yang berkilau di lubuk dada
sebab hanya itu memang yang dapat kita untai bersama
di antara rentangan jarak di mana kita berada


 
DPS 28 12 2014 – ilustrasi : google

Senin, 22 Desember 2014

LAFAS BIRAHI


di ranjang mana lagi persetubuhan liar
untuk melebur kerinduan dan kesangsian
dari lipatan-lipatan dunia yang nyata

bukankah semua telah kulunasi
dengan ketelanjangan jiwaku
hingga kau tahu setiap erangan
dan bisikan bukan lagi dunia yang maya

tetapi mengapa kesangsian itu
terus saja kau lampirkan sebagai ungkapan
di mana aku harus terus berdiri
pada satu sisi tempatmu memandang

sekali waktu, berdirilah di tempatku hingga kau tahu
bagaimana seorang perempuan bertahan
dengan sebelah kaki hanya untuk meyakini dirinya
untuk sekedar tetap tegak tanpa sebuah penyangga
kecuali doa yang terus menerus dilafaskan
seperti erangan yang tak usai dari setiap pergumulan

di sana kau akan tahu setiap birahi adalah harga diri
untuk dipermuliakan dengan ketulusan atau kenistaan
yang tak dapat ditawar dengan bahasa apa pun
kecuali kau menyadarinya sebagai bagian dari dirimu
yang tidak dapat dilepaskan dari sebuah perjanjian rahasia




DPS 20 12 2014 - Ilustrasi : NA


Rabu, 17 Desember 2014

TUMPAT


di puting siang yang garang
aku mengerang dan menggelinjang
terpanggang dalam penantian panjang
kapan kau jelang


ah, penumpah gairah
mengapa tersumbat
mengapa kau bebat, tumpatlah..

: sebelum aku menjadi tembikar


DPS 18 12 2014

Selasa, 16 Desember 2014

KUZIARAHI KASIHMU


untuk sahabatku Elly Matondang dan Almarhum Hilman Matondang

 
Seharusnya, ya, seharusnya
kau tetap berada di sisiku
mendampingi setiap langkahku
pada saat aku jatuh dan rapuh
membuatku selalu tengadah
dan berkeyakinan teguh

kau adalah telinga kecil
yang mendengar isi hatiku
kau adalah cawan kecil
tempat menampung airmataku
kau adalah peta kecil
dari perjalanan hidupku

masih basah dalam ingatan
ketika langkah-langkah kecilmu
tertatih-tatih menghambur
ke dalam pelukanku
dan aku mencurahkan
seluruh kasih padamu

masih terkenang dalam bayangku
ketika kau menjadi lebih dewasa dari waktu
merengkuh kegamanganku, kau lunasi
dengan kehangatan kasih dan keikhlasan
untuk memberiku seluruh ruang dan waktu

kini kau pergi lebih cepat dari waktu
dan aku hanya dapat ziarahi dengan kasihku
menabur airmata di atas pusaramu
sebagai pelengkap rindu, kau pasti tahu itu
seperti aku menyebut namamu
atas asma-Nya dalam setiap bisikan doaku

DPS 17 12 2014

Hujan Senja

selebat hujan membasahi bumi
aku kuyup dan gigil
dalan ruang kesendirian

kucoba mendengar suaramu
di antara gema sunyi
mencari kehangatan
yang mengalirkan kejenuhan
dan kebosanan


tapi sampai kapan aku menunggu
datanglah, dekaplah seluruh mantraku
agar kau dapat merasakan
: denyut dan getar kerinduanku



DPS 15 12 2014

MOZAIK

kaulah arus yang memetikku
hingga mengalir ke hulu, sayang
akulah batu yang kau pecahkan
dan kau siangi menjadi pasir, sayang

dan akulah jendela yang selalu terbuka
yang menyimpan langit biru
dan sayap-sayap burungmu, sayang

tapi jangan perduli,
jika dinding-dinding itu bertelinga,
menyadap setiap bisikan kita sayang

biarkan mozaik itu, melengkapi
setiap bagian dari diri kita, sayang....




DPS 16 12 2014

Disemayamkan Dalam Doa


malam memadat dalam kelam
di bawah hujan yang lebat
bukit-bukit runtuh dengan gemuruh
membuatmu terhempas tak bernapas


kelengangan pun merayap
di atas dataran yang terbuka
seperti jubah maut yang merengut
setiap kehidupan yang tersisa

malam pun menjadi sebuah pelaminan duka
di mana tubuh-tubuh dibaringkan tak bernyawa
tanpa lagi impian dan harapan, kecuali
keikhlasan untuk disemayamkan dalam doa

: dari tanah kembali ke tanah...




DPS 13 12 2014 - Bencana alam di Jateng

Kamis, 11 Desember 2014

TERLUMAT


kubiarkan nada-nada itu mengalun
bukan hanya melodinya yang indah terlantun
syahdu ,bahkan menghentak menyayat

di sana kita kepulkan seluruh kata
hingga terkulum dengan bisikan penuh makna
sebelum benih-benih puisi kita hamburkan
dari persetubuhan imaji yang paling liar

di mana kau dan aku akan terkapar
di atas kekosongan yang menghampar
pada setiap aksara yang
kita kulum dengan birahi makna
hingga terhempas ke liang malam
dan secangkir kopi tumpah di pelaminan

terlumat sudah rasa perih itu
membuatku tenggelam
di antara napas rindu
yang selalu menyapaku


DPS 12 12 2014 - ilustrasi : google

SUDAH


membumbung sudah
melambung sudah
menyeruput dan mengepul sudah

kehangatan di bibir secangkir kopi
dan sebatang rokok
di ruang waktu menunggumu

kini tinggal desah
merayap di sekujur tubuhku
kuterjemahkan sudah



DPS 11 12 2014

Rabu, 10 Desember 2014

PEREMPUAN PENYAMBAL



marilah makan siang bersamaku
akan kubuatkan sambal
dari setiap goyangan pinggulku
kau akan dapat merasakan
betapa seksinya rasa pedasku
hingga dapat mengulek perasaanmu

aku dapat menambahkan sedikit terasi
sebagai penyedapnya
jika kau memang tak cukup alergi
mungkin juga aku menambahkan jeruk limau
agar kau dapat merasakan asam dan segarnya

dengan sambal buatanku, lidahmu
akan terlipat-lipat oleh hasrat
untuk mencicipi setiap ulekan sambalku
mungkin kau akan terpejam atau terbeliak
menahan setiap kepedasan
pada rongga mulutmu hingga tak ada
sepatah katamu pun yang terucap

sebab sambalku tak beraksara tapi bermakna
untuk makan siangmu yang mungkin selalu
tertunda dan sia-sia

 
Denpasar 1811 2014 - ilustrasi : google


Hari Mendung

hari hari mendung
kau tinggalkan kabut di mataku

aku pun mengerjap-ngerjap dalam basah
menantimu di celah-celah gigil

untuk mendekapku sebagai pelunas rindu


DPS 02 12 2014

POLUSI





sudah tergenang, tak ada lagi yang patut dikenang
mengambang, timbul dan tenggelam
kota ini tak lagi menyimpan harapan, juga impian
biarkan menjadi sebuah selokan
mengalirkan semua kebusukan dan kepengapan
dan menjadi koloni para urban dan preman
sisa-sisa dari hindia belakang

tak ada lagi lorong-lorong kehidupan di kota ini
jalan-jalan raya dipenuhi polusi keangkuhan
hanya untuk melindas dan melempar setiap orang
dari pusat-pusat keyakinannya menjadi
kaum duafa ketepi-tepi kenistakan semata
bukan lagi sebagai manusia dengan kemuliaannya

haruskah aku kembali ke kota ini yang menyimpan
kesunyian dan keterasingan di tengah keramaian
dan membiarkan diriku tergadai pada setiap langkah
hanya sekedar untuk bertahan dalam kerinduan
yang mungkin tak pernah lagi menjadi kenyataan

(kini kota itu menjauh dan mengabut di pelupuk mata.....)

 
Denpasar 03 12 2014 - ilustrasi : google

Bersin Hujan

hujan membersinkan hari-hariku
membuatku demam dalam kesendirian

menggigil memanggil namamu
dengan seluruh rayuan

tapi hanya lembaran-lembaran tisu
yang terbuang di keranjang sampah


DPS 04 12 2014

Mata Senja



di mata senjamu aku mengerjap
pada saat langit diselimuti awan kelabu

hari-hari yang lembab
membuatku tersekap
dan aku mencari dekapmu



DPS 09 12 2014

TUBA DAN SUSU



ada kisah yang tak pernah selesai
tapi tak pernah terurai
di antara kita di antara waktu
tempat mengulum setiap percakapan
bukan untuk membualkan kealpaan

tapi seperti tuba dituangkan ke dalam susu
kau menghisap setiap kealpaan
menjadi keraguan dan alasan mencicipi
setiap perselingkuhan sebagai madu
tanpa kau sadari bagiku seperti empedu

kini aku hanya dapat mengulum sisa waktu
dengan gairah-gairah untuk bersekutu
dengan kecemburuan sebagai kalori
dari setiap denyut adernalin
dengan enerji yang masih tersisa

sebab kesetiaanku adalah api keabadian
penyulut setiap kesetiaan. tak akan padam
meskipun kelak mungkin akan membakarku
menjadi arang dan debu yang sirna
dihembuskan oleh angin senja

 
DPS 10 12 2014 - ilustrasi : google

Selasa, 25 November 2014

KISAS




cambuklah kulit punggungku
lepuhkan setiap pori-pori kulitnya
jadikan serpihan-serpihan daging
tumpahkan darah hitam dari lukanya
biarkan membusuk, biarkan menjadi nanah
aku tidak mengerang, tidak memekik

tapi jangan kau cambuk diriku
dengan menyebutku sebagai pezinah
padahal seluruh kehormatanku
telah dizinahi sebagai seorang perempuan
mereka menyeret ke dalam sebuah ruang
tempat merayu dan memaksaku
menghadapi kesaksian-kesaksian palsu
yang mereka nikmati di atas tubuhku
sedangkan aku hanya dapat
bersaksi bagi diriku sendiri

seribu cambuk tak akan membuatku pedih
tak akan pernah membuatku melolong ampun
tapi fitnah itu lebih tajam dari sebatang rotan
sebagai seorang perempuan,
kini tidak lagi dapat membuat diriku memahami
sebuah pengakuan di atas kebenaran

kecuali aku hanya dapat meyakininya
dengan setiap tetes airmata
yang mungkin tak akan pernah behenti mengalir
dari liang penyesalan jika aku telah dilahirkan
dengan kodrat sebagai perempuan

 
DPS 261112014 - ilustrasi : google

KUMPARAN WAKTU



mereka menyebut namaku pada pusaran air
sebab waktu katanya tak mengalir
maka aku hanya dapat menyembur
menghujat setiap hasrat yang tersumbat

mereka pun kuyup dan hanyut
bersimbah keluh yang luluh
tapi mereka masih saja terus berkayuh
meski mereka telah hanyut seperti sabut

dan ketika aku surut mereka terkejut
dengan wajah yang kusut
sebab ternyata mereka telah luput
dan hanya menggantang kabut

maka aku mencair dan mengalir
menyibak segala arus dan menggerus
menyetubuhi apa yang mereka sangsikan
sebagai bualan seorang perempuan

di atas gelombang pasang dan surut
aku menjadi hamparan laut tak terbatas
dengan kisahku seperti tubuhku bergelombang
oleh rayuan dan napas tertahan

di sana, pada hamparan luas dan biru
aku berulangkali terlahir, meskipun
hanya dalam kumparan-kumparan waktu
tak pernah berujung oleh gairah memburu

 
 
 
Denpasar 2111 2014 – ilustrasi : google

Senin, 17 November 2014

TUBUH YANG TERURAI




hanya laut tempatku menyimpan gelora
pada arus gairahku membuncah
lidah-lidah ombak mengulum rasa garam
tubuhku melintasi samudra kesunyian
berlabuh atau karam berulang-ulang

tak usah bertanya aku menjelma apa
mungkin menjelma apa saja
tapi aku telah ikan merenangi kerinduan
jauh sampai di lubuk palung terdalam
dari sebuah ruang keabadian

hanya laut yang dapat menerjemahkan
seluruh rahasiaku dari semua pantai
di mana aku menguraikan tubuhku
tempat angin menghembuskan risau
dalam desah dan kisah yang parau

tubuhku laut terbuka para petualang
menyeberangi keputusasaan
tempat mendulang kehampaan
menjadi cumbuan perjanjian
untuk dihempaskan berulang-ulang
sebelum kandas di tepi-tepi erangan
pada napas keperempuananku

 
 
Denpasar 17112014 – ilustrasi : google

Minggu, 09 November 2014

SEBIJAK SAJAK



selalu saja aku mencium bau laut
seperti kenangan yang tak pernah luput
selalu saja aku ingin berdiri di sana
menatap jauh ke balik cakrawala

peristiwa demi peristiwa
membuat peta lama tanpa jeda
di antara tangis dan tertawa
di mana dia selalu ada
membawa kisah-kisah lama
membuatku selalu terlena

tapi setiapkali aku terjaga
jika waktu telah pasang dan surut
dan semua cerita telah hanyut
tinggal kabut di pelupuk mata

kini aku memungut setiap makna
di atas hamparan pasir yang tersisa
dan lidah-lidah ombak
untuk menulismu dalam setiap sajak

( meskipun sajak-sajakku
tak sebijak-bijakmu meninggalkan jejak... )

 
Denpasar 10112014 - ilustrasi : google

DINDING SENJA


kemarin kau ingin menghisap senja
tapi jatuh di depan rumah
hanya menyisakan bilur-bilur di wajah
tanpa pernah kau tahu jika seluruh udara senja
telah membalut seluruh perjalananmu


dan kau hanya bisa kembali
ke dalam rumah
bukan sebagai seorang lelaki
yang dapat menyalakan lampu-lampu
di setiap sudut ruangan

kecuali meninggalkan kemuraman
pada dinding-dinding waktu
yang tak pernah lagi kau laburkan
di mana tempat kita berdiam
untuk menyiangi kembali setiap harapan



DPS 06NOV2014

Selasa, 04 November 2014

RUANG DADA



ada ruang tempat segala debar didenyutkan
begitu rahasia dan tersembunyi,
ada gairah yang selalu membuncah
di celah kesuburan bukit-bukit menjulang
di mana puncak puting kehidupan
tempat segala dahaga keturunan
dihisap dan dialirkan oleh kemurnian

ruang dada adalah sebuah ruang yang terbuka
tempat segala rasa dituangkan dan dicurahkan
sebagai ketentraman dan kedamaian direbahkan
dan didekapkan dengan penuh keikhlasan
tempat rindu disemayamkan dari napas cinta
dari ruang waktu yang tak terhingga

di ruang dada selalu ada cerita
dari setiap peristiwa suka dan duka
di antara tangis dan tawa
di mana semuanya berawal dan berakhir
dengan atau tanpa sebuah jeda

 
 
 
Denpasar 04112014 - ilustrasi : na

MENYIBAK

biarkan aku melukis dengan imajinasiku
tentang dirimu
yang bersemayam di balik kabut

sekali waktu aku akan menyibak
seluruh rahasia di balik kelaminmu




DPS 31102014

MANGGA PETANG


mengupas petang hari pada sebutir mangga
aku mengulum keranumannya
serasa mengupas hari-hari yang manis

kini tinggal hanya bijinya yang tersisa di atas meja
apakah akan tumbuh di sana
hingga dapat merimbunkan
manisnya kehidupan dari setiap buahnya

: untuk dikupas tanpa batas



DPS 01112014

Kamis, 30 Oktober 2014

GARIS LURUS




hanya ombak, pasir, garis khatulistiwa
membentang di pelupuk mata
mengabur dari kenangan

seperti ombak yang kembali ke pantai
aku selalu datang menyapamu
seperti pasir yang kupijak
aku mencoba menyusuri kembali jejakmu

hanya bisikan, tawa dan kenangan
yang dapat menggapaiku, menuntunku
hingga ke tepi lautmu

seperti garis khatulistiwa nun jauh di sana
aku seperti kembali meniti seluruh waktu
tapi selalu saja ada bayangku yang tertinggal
dan terlepas oleh kealpaan tanpa kumau

ada garis tangan ibu yang luput dari genggamanku
tak dapat kubaca, meski dengan airmata, meskipun
aku mencoba menjadi perempuan yang sama

aku tak dapat mengenakan gaun, memupur lipstik di bibir
atau membuat garis lengkung pada alis mata
selalu saja diriku terlukis di sana dengan sapuan warna
yang tak pernah aku pahami hitam atau putih

maka aku hanya dapat menarik sebuah garis lurus
seperti garis di tepi cakrawala, jika itu jalan yang kutempuh
: mungkin jalan kodradku sebagai seorang perempuan

 
DPS 29102014 - ilustrasi : google


Rabu, 29 Oktober 2014

PECAH

ada yang pecah tapi bukan kaca
ada yang basah tapi bukan embun
ada yang berlari tapi bukan di jalan

ada di pelupuk mata tapi bukan bayangan
ada di dalam ingatan tapi bukan kenangan
ada di dalam rasa, firasatkah...



DPS 28102014

Senin, 27 Oktober 2014

DEHIDRASI


selepas hari. selepas mimpi
menyimpan dada dari denyut
menghisap sisa waktu
lewat kepulan-kepulan


tinggal dehidrasi, melengkungkan tubuh
tersembunyi di antara lekukkan
terkulum sudah di sudut bibir



DPS27102014

Jumat, 24 Oktober 2014

BOLONG


siang di pelipisku bercerita tentang terik
aku menguap dengan lenguhan panjang
siang yang diare di perutku
melahirkan gumaman tentang waktu
yang kuperas di jembangan
wajahku memantulkan erangan


siang yang bolong itu tergelincir
menyisakan sumpah serapah
dari pikiran dan perasaan yang banal
tentang profesinalisme tagihan
membuatku lebih senja dari waktu
tanpa memberimu buah kuldi
untuk kau lahap dengan sisa imaji

kau kemudian membisikkan sesal
tapi aku terlanjur mengumbar
setiap waktu yang terabaikan
jika aku harus kembali menyusuri
jalan pulang, tempatku menyimpan
seluruh kecemasan menjadi bagian
penerimaan tanpa alasan



DPS 10092014 - ilustrasi :google

PENAWAR




telah aku lepaskan seluruh larik-larik puisi
seperti aku melepaskan gaun malamku
tapi kau masih juga bertanya tentang makna
dari setiap ungkapan untuk kusingkapkan
padahal kau tahu bagaimana menerjemahkan
dengan interpretasimu sendiri pada setiap lekuk
bayanganku, meskipun hanya sebagai
kilasan-kilasan peristiwa di dinding waktumu

haruskah persetubuhan setiap makna
menjadi bisikan-bisikan liar
di mana suaraku nyaris hilang tak terdengar
ketika setiap kata kau kuliti
seperti setiap inci pori-poriku
di mana darah keperempuananku
mengalir dan berdesir dengan deras
setiapkali aku menyebutkan namamu
dengan bahasa-bahasa mantra
agar kau tak pernah berpaling
tetapi semua seperti menjadi sia-sia

maka kini aku hanya dapat memadatkan
semua keyakinan dalam diriku, meskipun
mungkin aku hanya menjadi bongkah batu
dan berkarang di tepi lautan yang luas
seperti yang selalu diajarkan lelaki lautku
untuk menerima badai dan topan
sebagai penunjuk arah, jika setiap kata
adalah makna dari setiap langkahku

di sanalah aku akan berdiri dengan tegak
dengan seulas senyuman sebagai penawar
jika hidup tak selalu terasa hambar

 
 
Denpasar 24102014 - ilustrasi : google

SEPATU

sepatu yang teronggok di depan pintu
apakah sepatumu

mengapa aku tak mendengar langkahmu
mendekat atau menjauh

apakah kau datang
dari masa lalu atau masa depan

aku merasakan adanya hembusan
begitu sangat kukenal
ada sisa bau tubuhmu

: menyengatkan gairahku


DPS 21102014

BERKELINDAN


hari-hari yang basah membasuhku
dari teriknya percakapan
penuh dengan desahan napas memburu

sebab kutahu rinduku dan rindumu adalah satu
untuk terus bersulang dalam kenangan
di mana kita selalu bercumbu setiap kata

dan menjadi makna seperti gaun terbuka
di mana kelamin jantan dan betina
berkelindan dalam tautan yang sama



DPS 23102014

Selasa, 21 Oktober 2014

LOSS


seruputan kopi pagiku
terasa pahit di lidah
karena teraduk gula ego

ada korek api yang hilang
aku tak dapat menghembuskan
asap malam atau siang

sepanjang jalan airmataku menetes
dan aku hanya bisa menyaputnya
diam-diam...



DPS 23102014

Senin, 20 Oktober 2014

BUKAN SEBUAH LAGENDA



mengapa kau kirimkan terik pada siang
ketika hanya peluh yang membasuh jiwaku
mengapa kau biarkan aku meranggas
dengan napas yang tersenggal
dan membiarkan diriku terbakar

lihatlah, kini aku tak dapat lagi meliukkan
setiap lekuk bayanganku yang begitu samar
seperti ketika kau pertamakali
berbisik pada liang telingaku, jika setiap bayangan
adalah sebuah dongeng untuk setiap impian

bisikanmu yang begitu dalam saat itu
membuatku seketika tersihir
dan tanpa sadar aku telah menari
di atas liukan setiap inci tubuhku sendiri
aku dapat bersijingkat pada jari-jari kakiku
dan melangkah ringan seperti angsa terbang
di atas permukaan danau yang luas
dengan pekikan-pekikan manja

tapi setelah aku berada di seberang kenyataan
semua impian itu tinggal bayangan
di permukaan air yang bergelombang
yang kemudian berlahan-lahan tenggelam
ke palung dasarnya yang paling dalam
dan aku tak dapat menjelma menjadi seekor ikan
untuk menyelami perasaan yang terdalam

kini aku hanya dapat berdiri termangu
di tepi-tepi impian, menunggumu
di permukaan dengan sisa-sisa kesetiaanku
dari keyakinan yang masih kumiliki
meskipun mungkin aku akan menjadi
batu yang berlumut sebagai prasasti
tapi mungkin tidak lagi sebagai batu menangis
hanya untuk menciptakan sebuah lagenda
dan hanya menjadi sebuah dongen semata

( sebab kau dan aku adalah nyata adanya...)

 
Denpasar18102014 -- ilustrasi google

Rabu, 15 Oktober 2014

TERSAPUT OLEH HUJAN


tersaput sudah udara yang lembab oleh hujan
pertengahan oktober. membasuh terik

tapi tidak kisah itu. masih memanggang
menjerang semua percakapan, mungkin
bisikan atau erangan tak bertautan
samar di antara suara gemercik hujan

waktu pun seperti tak terbilang
tak ada yang bisa diredakan
ketika semua sudah terlanjur sayang

menikahi bisikan-bisikan tertahan
sudah terlampiaskan pada setiap pertemuan

tidak ada yang perlu disesalkan
untuk memilih jalan-jalan yang basah
di antara bau tanah yang meruap
seperti tubuh yang melindapkan bayangan

seperti hujan yang tak lagi mengenal musim
tak ada lagi yang memang perlu dicatat
dari setiap kealpaan bukan sebagai pengingkaran

biarkan hujan bulan oktober menderas dan mereda
meskipun harus berpayung dalam bayangan

 


Denpasar 15102014 - ilustrasi : google

LENGKUNG


bermukim pada hujan
batang-batang berjamur
mengendapkan gigil
udara penuh tuba
basah berayun pada ranting


ada yang mengembun pada kaca
sisa-sisa kenangan
ada sebuah nama di situ
untuk tidak disebutkan
seperti cuaca pada musim

bermukim pada kenangan
setelah gerimis menipis
di bibir langit senja
menggariskan seulas senyuman
dengan lengkungan pelangi
menyisakan sihir



Denpasar 1310 2014 - ilustrasi : google

PINANGAN



petang itu aku telah menunggumu di beranda
aku berteduh pada langit biru yang terbuka
dan semilir angin yang membawa kabar tentangmu
jika kau akan tiba sebelum hari senja
untuk mengisahkan padaku perjalanan waktu
seperti pada lembaran-lembaran puisi
sebagai sebuah peta penunjuk arah

mungkin kau akan sampai dengan wajah yang pucat,
tubuh yang lusuh dan bibir yang pecah-pecah
disebabkan oleh teriknya matahari
tetapi tidak mengelupaskan keluhan, kecuali
kau akan katakan padaku untuk menyajikan
segelas air putih sebagai pelepas dahagamu

tapi jangan cemas, aku akan menyambutmu di beranda itu
dan aku akan menyuguhkanmu apa yang kau rindukan
sebelum aku mendengar kisahmu tentang
burung-burung yang melintasi musim yang jauh
dengan kepak sayap-sayap sunyi dan kicaunya
yang selalu menyenandungkan harapan
untuk segera sampai tempat tujuan
seperti juga yang selalu kita angankan bersama

ya, di sini, di sebuah beranda, di tepi waktu
aku akan setia menunggumu, meskipun mungkin
tak pernah tahu kapan kau akan tiba
aku hanya dapat menata perasaanku serapih mungkin
seperti aku menata rambut dan gaunku
agar kau tetap dapat tersenyum dan berbisik padaku
: aku meminangmu

 
Denpasar 09102014 - ilustrasi google

Senin, 06 Oktober 2014

DARI HILIR HINGGA HULU




kadang aku ingin mengalir seperti air
dari puncak-puncak gunung yang ditutupi kabut
melewati pinggang-pinggangnya yang subur
tapi aku tak tahu di mana hilirnya
sehingga aku mengalir begitu saja
mengikis setiap bebatuan dengan gemercikku

kadang aku ingin mengalir ke suatu lembah
dan menciptakan sebuah danau yang sejuk
membentang dengan gelombang yang tenang mengalun
tetapi aku tak pernah tahu sedalam apa lubuknya
dan di mana ikan-ikan dapat menetaskan telurnya

kadang aku ingin mengalir jauh ke hulu
melepaskan diriku di muara dan ke laut yang luas
dengan gairah ombak yang menampakkan lekuknya
jauh hingga melampaui garis batas horison
di mana para nelayan dengan perahu cadiknya
mengembangkan layar seluas cakrawala

kadang aku hanya ingin mengalir dalam impian
di mana aku tak pernah terjaga
untuk menampung semua ingatan dan kenangan
dalam sebuah perjalanan panjang tanpa pernah perduli
di mana hilir dan hulu itu, berawal dan berakhir

 
Denpasar 0610 2014 -ilustrasi : google

KOPI SENJA


senja menyalip senyumku
di tikungan jalan pulang
sebelum pelupuk malam
mengatupkan kelam

hingga menyesatkanku
pada kejalangan
hanya untuk menumpahkan
secangkir kopi hitam

meskipun aku harus menyeruput
sisa-sisa ampas di ceruknya
tapi aku masih dapat menghirup
setiap aroma yang menguar

sebelum semua impianku terkapar
aku masih dapat mengumbar
hasratku yang terdampar
dengan sedikit berkelakar

 


DPS 02092014 - ilustrasi : google

Selasa, 30 September 2014

BUNGA KARANG




ketika embun masih berada di ubun-ubun kepala
dan sisa kantuk masih mengerjab di pelupuk mata
aku telah menanak seluruh waktu dan menyeduhnya
sebelum matahari menyiangi dinding rumah
memetakan bayangan ketambunanmu di sana
hanya untuk menyetubuhi keperempuananku
dengan seluruh umpatan dari kemandulanmu
sebagai seorang lelaki dari golongan kaum kasim
sedangkan aku terus kau biarkan dengan ketelanjanganku
mengangkangi kekosongan yang kau tinggalkan
hingga membuatku mengerangkan kesendirian

dan aku biarkan semua tulang-tulang rusukku patah
terpanggang terik yang hanya dapat kubasuh
dengan keringat dan airmata dari setiap titik pori-pori
hanya untuk bertahan dari kekalahan tetapi tetap saja
kau menistakannya sebagai perempuan sundal
yang bertulang punggung di mana sumsumnya kau hisap
dan nikmati sepanjang tahun hingga mengering
menjadi padang tandus yang terbuka oleh setiap ilusi
jika setiap helai rambut kelaminku dapat kau cabut
untuk membayar dan melunasi seluruh hasratmu

tapi jangan kau salahkan aku, jika aku tumbuh
menjadi bunga batu seperti kaktus berduri
di mana bau matahari menyetubuhiku sepanjang hari
dan perlahan-lahan membakar setiap percikan ludahmu
untuk kembali kau jilat sendiri dari apa yang pernah
kau najiskan dari keperempuananku
tak dapat lagi kau sentuh dengan telunjukmu
karena aku telah berdiri di sana
di luar perbatasan kesabaran yang telah kubangun
dari setiap butir batu yang pernah kau lemparkan
dan kelak menjadi sebuah bunga karang
yang tak akan pernah bergeming dari keyakinan

 
 
Denpasar 01102014 -ilustrasi : google

Senin, 29 September 2014

MENYIBAK DI LUAR MUSIM


ada suhu dalam tubuhku
mengepulkan keperempunanku
dan kau tahu itu
bagaimana teriknya merayapi
setiap pori-pori dan membakarnya

tapi kau tak juga menghembuskan
sebuah percakapan yang dapat
menjinakan setiap desah napasku
seharsunya kau tahu kebinalan
yang menguap dari setiap lekuk waktu
dapat menghanguskan kelelakianmu

jika tubuhmu menjadi kemarau panjang
jangan pernah kau berharap
dapat menuai kembali kesuburan
sekalipun dari sisa-sisa tubuhku
karena mungkin tak ada setetes pun
yang dapat kau reguk dari liang kehidupanku

kini aku sudah berdiri jauh di luar musim
di mana aku sudah dapat memetakan
sisa-sisa perjalananku untuk dapat
kunikmati sepenuhnya dengan seulas senyum
yang pernah kau rampas dan hilang
tapi kini aku telah menemukannya kembali

 
DPS 28092014 - ilustrasi :google

SEPI

terperangkap sepi
menggeliat sendiri
haruskah terus menanti
sampai menjelang dini hari
 

: pagutlah sebelum waktu berhenti

 

DPS 27 SEPT 2014

Koran Pikiran Rakyat Bandung tanggal 28 September 2014.



3 Puisi saya tayang di Koran Pikiran Rakyat Bandung tanggal 28 September 2014.


1/ HOLOCAUST

sejarah kembali berdarah
di tanahmu yang penuh rahmat
  dari Musa hingga Ibrahim
memburu impian tanah perjanjian
di antara bangsa kutukan dan pilihan

Musa yang menulis 10 hukum Taurat
di atas batu di bukit Sinai
tinggal hanya sebuah aksara tak terbaca
kemungkaran terus saja merayap
di atas badai gurun pasir yang luas

di sana matahari peradaban
terbit dan tenggelam hanya untuk
dendam sejarah yang panjang
dari keturunan Ibrahim

haruskah kau urapi tanah peradaban itu
dengan darah dan air mata
dari wanita dan anak-anak
hingga tersungkur di sudut-sudut kota tua
untuk membangun dinding ratapan

Sulaiman, lihatlah Daud, putramu
tidak hanya melontarkan buli-buli berisi batu
tetapi roket dan bom di mata di kening goliat
dari bangsa filistin yang masih tersisa
setelah memburumu dari kisah yang lain

tidakkah kau bercermin sebagai bangsa
yang selalu diburu di sepanjang abad
hingga sampai ke kamp-kamp pembantaian
di tanah Jerman yang dingin
diselimuti salju dan gas beracun

kini aku hanya dapat membaca
dengan setiap tetes airmata
yang jatuh pada setiap ayat
di dalam kitab-kitab suci-Mu

Denpasar 2014

2/ / MENJELMA DEWI DANU

melalui babad mengwi, aku menjelma dewi danu
jiwaku mengalir seperti sungai dan bermuara
di danau yang tenang dan luas membentang
hembusan udaraku yang sejuk akan membawamu
pada keelokan parasku di mana kau akan merindukanku

melalui babad mengwi, kau adalah pangeran dari
kekalahan dan kemenangan pada sebuah
pertempuran dan pertapaan yang kau hamparkan
di atas tanah yang terbuka oleh kehijauan
di mana kemakmuran menjadi impian panjang

melalui babad mengwi, aku menjelma kenangan
dan terkilir oleh harapan yang terabaikan ketika
aku mencoba bergegas melangkah menyusuri
anak-anak tangga kehidupan di mana aku
tak dapat membangun pura-pura impianku sendiri

melalui babad mengwi aku ingin tetap mengalir
seperti sungai yang bermuara di sebuah danau
yang tenang dan luas membentang
untuk membasuh seluruh impianku menjadi
sebuah kenyataan yang tak pernah terabaikan

Denpasar 2014

3/ TANAH LAUT

akhirnya aku tiba juga di tepi keyakinanmu
di antara keteguhan batu-batu karang
di mana air suci disimpan di dalam goa
yang dijaga oleh mantera ular-ular berbisa

tanah lot, tanah di atas laut, mengambang
dengan kisah para pertapa dari
sebuah perjalanan panjang di mana
matahari menyenjai dirinya dengan warna jingga
dan membuatku duduk terpaku dalam bayangan

di sini, di tanah laut ini, kakiku seperti
berhenti pada kisah masa lalu dari
sebuah tradisi yang tak pernah lapuk
tegar seperti karang, gairah seperti ombak
hingga menjadi pura-pura di atasnya

dan di antara desiran angin
yang menyibak anak-anak rambutku
dari gemuruh ombak
yang pecah di kaki-kaki karang

di sini aku mendengar dengung doa
di pelataran puramu melampaui
perbatasan-perbatasan zaman
di mana kau tak berubah, tak bergeming
dari kebebasan yang mencoba merengkuhmu

meskipun kau sewaktu-waktu
berada di antara
air laut yang pasang dan surut

Denpasar 2014

Kamis, 25 September 2014

SALUANG SI MALIN KUNDANG




suara saluang yang kau hembuskan
dengan penuh kemesraan dari ranah minang
mengalunkan sanjungan dalam sebuah pertemuan
untuk mendesahkan percakapan-percakapan
pantun dalam desahan-desahan gurindam

mari uda rampakkan resah dan gelisah
sebelum kau menjadi si malin kundang
meninggalkan tanah kelahiran
bukan sekadar menjadi batu yang menangisi
kutukan berkepanjangan
dengan telunjuk berkait kelingking
di mana langit tak lagi berjunjung
dan bumi tak lagi dipijakan

tabuhlah seluruh gendang dari nagari sembilan
sebelum kau hempaskan aku di pelaminan
dari sisa-sisa kerinduan yang terabaikan
dan jam gadang menghentikan waktu bersulang
mari tuangkan uda kibaskan jalan bersilang
sebelum adat digadaikan dengan napas tertahan
oleh pekikkan gairah dalam irama berzanji
yang menghempaskan di ceruk malam tak berbulan

 
Denpasar 2409 2014 ilustrasi ; google & pribadi

TEH TUBRUK



di keremangan teras rumah, daun-daun teh
berwana cokelat kehitaman itu
kuseduh di dalam gelas dan aromanya menguarkan
waktu yang pernah hilang di mana kita pernah duduk
menghirup dan menyeruput setiap percakapan
dan melepeh-lepehkan setiap kata tak bermakna
seperti melepeh-lepehkan daun teh
yang tersangkut di bibir kita di antara manisnya
dari ilusi-ilusi yang kita ciptakan dengan kemesraan

tapi kini kau tak ada lagi di teras remang itu
kecuali teh yang kuseduh sendiri dan mereguknya
juga dalam kesendirian sambil mengingatmu
dari seluruh kenangan ketika kita duduk bersama
seperti sisa ampas teh di dasar gelas
dan aku tak ingin mereguknya lagi hanya untuk
melepeh setiap daunnya dan membiarkan malam
menutup teras dengan warna kelamnya

kecuali aku akan menyeduh teh tubruk itu kembali
di dalam impianku nanti tanpa melepeh setiap daunnya
sebelum menjadi ampas keesokan harinya

 

DPS 21092014

Kamis, 18 September 2014

PILIHAN




kadang aku ingin membagi senyumku padamu
tapi aku tidak lagi memiliki sepasang bibir
untuk merekahkan dengan seulas tarikan saja

kadang aku ingin menangis tapi aku tak lagi
memiliki sumber airmata di kedua mataku
karena lubuknya telah mengering oleh kemarau

kadang aku ingin memberimu sebuah isyarat
dari setiap gerakku yang sekecil apa pun
tapi aku hanya dapat diam terpaku

kadang aku ingin kau tak memahami semua itu
dan aku membiarkanmu berlalu
tanpa berpaling sedikit pun ke arahku

sebab mungkin itu sudah menjadi pilihanmu

 
Denpasar 1809
2014

Jumat, 12 September 2014

Puisi Puisi Alit



PISAU
mata pisau, berkilau
pada denyut nadimu

OMBAK
ombak menggulung kenangan
di sepanjang pantai

KOPI
secangkir kopi, kuseruput
di bibir senja

ALAMAT
 sebuah jalan menyimpan alamat
aku tersesat

DANAU
sebuah danau di matamu
menggenangi keteduhan

CINCIN
di jari manis kau kenakan
sebuah perselingkuhan

TUMIS
tumis jengkol. mengumpatmu
dalam sebuah sajian

BATU
hanya selemparan batu
rasa cintamu padaku



DPS 13 sept 2014