Senin, 20 Oktober 2014

BUKAN SEBUAH LAGENDA



mengapa kau kirimkan terik pada siang
ketika hanya peluh yang membasuh jiwaku
mengapa kau biarkan aku meranggas
dengan napas yang tersenggal
dan membiarkan diriku terbakar

lihatlah, kini aku tak dapat lagi meliukkan
setiap lekuk bayanganku yang begitu samar
seperti ketika kau pertamakali
berbisik pada liang telingaku, jika setiap bayangan
adalah sebuah dongeng untuk setiap impian

bisikanmu yang begitu dalam saat itu
membuatku seketika tersihir
dan tanpa sadar aku telah menari
di atas liukan setiap inci tubuhku sendiri
aku dapat bersijingkat pada jari-jari kakiku
dan melangkah ringan seperti angsa terbang
di atas permukaan danau yang luas
dengan pekikan-pekikan manja

tapi setelah aku berada di seberang kenyataan
semua impian itu tinggal bayangan
di permukaan air yang bergelombang
yang kemudian berlahan-lahan tenggelam
ke palung dasarnya yang paling dalam
dan aku tak dapat menjelma menjadi seekor ikan
untuk menyelami perasaan yang terdalam

kini aku hanya dapat berdiri termangu
di tepi-tepi impian, menunggumu
di permukaan dengan sisa-sisa kesetiaanku
dari keyakinan yang masih kumiliki
meskipun mungkin aku akan menjadi
batu yang berlumut sebagai prasasti
tapi mungkin tidak lagi sebagai batu menangis
hanya untuk menciptakan sebuah lagenda
dan hanya menjadi sebuah dongen semata

( sebab kau dan aku adalah nyata adanya...)

 
Denpasar18102014 -- ilustrasi google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar