Kamis, 26 Februari 2015

PUPUTAN



ada sisa senyum di sudut bibir
ketika kau mengenakan udeng
dan aku menyanggul rambut

masih perlukah mengenakan umpal
dan membuka kipas
sebelum keris disanding di punggung
untuk melangkah ke gapura

gamelan telah ditabuh di banjar-banjar
tuak telah dituang di ruang-ruang adat
menjadi percikan-percikan air suci

kini saatnya seluruh hikayat dihentakan
menyulut dupa di setiap sudut kampung
berjaga-jaga bersama para pecalang
perempuan membawa sodan di kepala

keris telah tercabut dari punggungmu
kipas telah terbuka di depan wajahku
kita berada di ruang tradisi yang sama

di ujung keris semua telah digariskan
di balik kipas semua tak perlu diucapkan
biarkan isyarat menjadi lambang
sebab kata dan makna tak terbilang

hanya dengan satu ungkapan
: puputan!

DPS 27 02 2015 - ilustrasi : google
--------------------------------------------------

Catatan kaki :
Udeng (ikat kepala)
Umpal (selendang pengikat)
puputan ( habis-habisan)
banjar (desa)

Senin, 23 Februari 2015

MERAWAT WAKTU



seluruh waktuku telah kau baca
tak ada lagi yang tersisa
aku menitinya sebelum matahari terbit
memulangkannya setelah tenggelam

sungguh aku tak perduli
berjejak atau tidak pada bayangan
hanya keikhlasan sebagai jarum waktu
tanpa merajutnya dengan benang basah
karena kutahu akan sia-sia

meskipun benang itu 

telah kusut dan masai
kubiarkan terurai 

seperti rambutku
 
sebab kutahu jemarimu akan menyisirnya
di antara sela-sela waktu bertemu
bukan lagi di celah ruang tersembunyi
tapi di sebuah ruang di mana bayangan
: menjadi nyata dan apa adanya



DPS  20 02 2015

Minggu, 22 Februari 2015

KUTA

pantai yang selalu memanggil
orang-orang dari luar batas cakrawala
memanggang tubuhnya
di bawah sengatan matahari
mewarnakan kulitnya dari musim dingin

di sini peradaban terhampar di atas pasir
telanjang dan terbuka
melihat cahaya dengan kacamata hitam
bersilancar di atas tradisi
ombak gamelan yang ditabuh
dari jelmaan para dewa dan leak
di pintu-pintu pura bersaji

di sini ada pintu menuju nirwana
melalui pembakaran api suci yang dipercik
mantra-mantra dan lonceng para mangku
dengan taburan bunga melati
setelah disanggulkan di rambut para dara
dipetik para satria dari tuak adat
untuk mencapai keniskalaan

di sini ada matahari sebesar tampah
menampis di dinding langit senja
menjadi purnama raya malam hari
untuk selalu dipersembahkan
pada pergelaran yang ditarikan
di atas panggung kehidupan

pantai kuta hamparan pelaminan terbuka
di sini lelaki dan perempuan menjelma satu kelamin
dari pesetubuhan-persetubuhan rahasia
di mana pusat bumi berputar dari
petualangan panjang abad-abad yang hilang

 


DPS 23 02 2015 - ilustrasi : google

Senin, 16 Februari 2015

Antalogi Puisi METAMORFOSIS at Dapur Sastra Jakarta



Buku antalogi bersama 50 penulis grup   DAPUR SASTRA JAKARTA (DSJ )

dan 5 puisiku ada di dalamnya :

- Anak Laut
- Lembab
- Selembar Gaun
- Logaritma Tubuh
- Sebijak Sajak

Cermin Cembung dan Cekung


masih juga kau mencoba menyibak
setiap rahasia yang tersembunyi
pada setiap bilahan-bilahan waktu
hanya untuk mencumbu setiap kerinduan


padahal kau sudah begitu hapal setiap desir angin
dari setiap helaan napasku setiapkali menyapamu
tetapi selalu saja kau meminta untuk mengulangnya
sebelum matamu terpejam dan merasakan desiran itu
menyaput jauh ke lubuk dadamu yang terdalam

padahal setiapkali kau sendiri
selalu alpa menyebut namaku
sekalipun kau telah tahu ketelanjanganku
adalah cermin dari dirimu sendiri

semoga, cermin itu tetap memantulkan
bayangan kita bersama dan tak pernah
mengabur oleh waktu untuk tetap melihat kita
apa adanya..

seperti yang selalu kita sepakati bersama
untuk tidak menjadi cermin yang cembung atau cekung
hanya untuk menandai setiap pengingkaran



DPS 16 02 2015

Minggu, 15 Februari 2015

Sabtu, 14 Februari 2015

Asam di Mulut

aku menghembusan asam
kepulan demi kepulan
membumbungkan seluruh angan


DPS 02 2015

Jumat, 13 Februari 2015

PUTING SIANG

puting siang merentang
aku merenggang dalam bayang
meradangkan kegamangan



DPS 14 02 2015

Menuang Waktu dalam Kopi

--bersama Remmy Novaris Dm


seluruh waktu sudah kita tuang dalam gelas kopi
untuk selalu kita sulang bersama dan menikmatinya
pahit dan manis setiap seduhan telah tercicipi
bahkan sudah berulangkali kita meneguknya
hingga tandas atau tertumpah dalam persulangan
sesekali pula kita menyeruputnya dari bibir gelas yang pecah


tidak semua gelas memang yang retak
bukan berarti pula tidak ada harapan yang tak sampai
selalu saja dapat kita tuai pada pagi atau senja hari
sebelum kita menyelinap bersama ke balik lipatan mimpi
dan meneruskannya dalam sebuah perjalanan nyata

kehangatan dan keharuman uap kopi akan terus memenuhi
ruang-ruang imaji dengan kekentalan dan kekelamannya
dari situlah kita tahu menyeduh dan menyajikan apa adanya
seperti apa yang kita kisahkan bersama lewat aksara
sehingga seluruhnya menjadi lebih bermakna

sebab hanya dengan menuang kopi ke dalam waktu
kita selalu dapat berbagi rasa, berbagi suka dan senang
dan kita tidak akan pernah lelah dan jenuh
untuk terus bersulang meskipun dalam penantian panjang
karena kita pun tahu jalan untuk pergi dan kembali pulang
di mana kopi itu tetap kita sajikan bersama



DPS 13 02 2015 - ilustrasi : google

Selasa, 10 Februari 2015

APEL


jangan mengisahkan lagi buah apel
jika hanya untuk di letakan di atas meja
menjadi percakapan siang hari
sebelum kau dan aku mengunyahnya
untuk bersepakat tentang rasa
pada setiap lipatan-lipatan lidah


kita tak pernah tahu tumbuh dan jatuhnya
apakah jauh atau dekat dari pohonnya
hanya untuk meluruskan sebuah pepatah
sebagai sebuah pembenaran
untuk kita kupas kulitnya dan membelah isinya

kecuali jika lidah kita bertulang dan menyangkal
setiap irisan pada buah apel itu adalah setiap rasa
dari setiap ungkapan untuk saling berbagi
baik di dalam susah maupun senang
bukan hanya dari tipis dan tebalnya kulit apel itu

maka kita mungkin tak perlu menyantapnya
hanya pada siang hari tetapi juga malam hari
mungkin juga di dalam tidur sebelum terjaga
tanpa perlu lagi kita menyisakan setiap irisan
dari buah apel itu sebagai sebuah pertanyaan
karena kita telah tahu setiap jawabannya



DPS 11 02 2015 - ilustrasi : google

Senin, 09 Februari 2015

KUN FAYAKUN

mengulum waktu, tak terbayar
dari bulan-bulan tertunda
tak dapat kupinjam sepejaman mata
kecuali menunggu mujizat

mengetuk pintu terbuka sendiri
meskipun tanpa lubang kunci
mengintai setiap kesempatan
mendulang harapan jadi kenyataan


DPS 09 02 2015

Minggu, 08 Februari 2015

a

sepanjang hari ini
kita bercakap tentang hujan
kau dan aku menggigil
dalam kenangan

di sebuah kota di mana
jejak kaki pernah dilangkahkan
selalu ada saja yang tersesat
dalam bayangan..


DPS 12 01 2014
dalam rabun aku terus berjalan
sebenarnya kau tahu, tetapi tuli
dan tak mau melihat...

RUANG WAKTU


ada jarak ada waktu yang selalu merentang
di mana kisah dan peristiwa saling bertautan
di sana pula kita saling bertemu, saling menyapa
melangkah bersama mengejar setiap bayangan
tetapi selalu saja kita luput dan alpa
dan membuat goresan-goresan yang tajam
hingga kita mengerang dalam penyesalan


sekali waktu kita memadati ruang
dengan bisikan-bisikan paling mesra
dalam kesamaran cahaya
untuk tidak sekedar menjadi bayangan
kita saling merengkuh dalam diam
menyatu dalam keheningan
agar seluruh cumbuan menjadi kenangan
pada sisa napas tersengal
dari sebuah kepasrahan
untuk tidak lagi saling menyangkal

kita tahu ada ruang waktu yang terbatas
dan setiap rentangan dapat diretas
tapi kita juga tahu setiap keikhlasan
akan membuahkan kekekalan
dengan seluruh keranumannya
untuk selalu kita santap bersama
dari sebuah ruang dan waktu tanpa jeda



DPS 07 02 2015 ilustrasi : google

Kamis, 05 Februari 2015

PELANGI


menuai kabut
gerimis yang tertuang

menuai harapan
mendulang impian
menjadi kenyataan

: pelangi



DPS 05 02 2015

MENGENDAP

mengendap di antara bayang-bayang
hilang lenyap dalam tangkapan
sudah terlalu kelam, sudah terlalu jalang
keperempuanan bukan untuk dinistakan

raih dalam dekapan, sentuh dalam kehangatan
jangan menunggu waktu terabaikan
sebelum semua kasib dan menjelma penyesalan
ada batasnya kesabaran perempuan

tunggulah di tepi malam
di mana rahasia perempuan tersimpan



DPS 18 01 2015

MARWAH


buah keranuman itu terkunyah
dari dada yang terbelah
tapi kau hanya dapat mendesah
mencari hakikat dari setiap marwah



DPS 04 02 2015

Minggu, 01 Februari 2015

MENANAM PADI TUMBUH ILALANG


apakah aku telah menebar benih di luar musim
hingga padi yang kutanam hanya tumbuh ilalang
mengapa kasih yang kusemai dan kupupuk
hanya menumbuhkan kebencian dan dendam


lihatlah jari-jari ilalang itu telah menuding langit
menusuk bulan dan matahari, menggores waktu
musim pun telah meranggas pada setiap tangkainya
dan angin kepedihan menyaput punggung-punggungnya

haruskah aku menanam ilalang agar tumbuh padi
di mana setiap harapan hanya menjadi ladang penantian
hingga setiap impian tumbuh di luar kenyataan
dan cinta yang kuberikan menjadi pengingkaran

haruskah setiap pertanyaan yang tumbuh
menjadi jawaban yang tak berkesudahan
sehingga menjadi erangan-erangan liar dan tajam
hanya untuk menggores setiap kepastian

( kini aku hanya menjadi ilalang yang tumbuh
di sepanjang bibir danau.... )




Denpasar 02 02 2015 - iustrasi : google & foto pribadi

BIBIR GELAS


siapa yang pernah menyentuh bibir gelas itu
siapa yang pernah mengisi dan mengosongkannya

apakah kau dan aku
pada sebuah persulangan

: kita..


DPS 08 12 2014