Rabu, 23 Maret 2016

HARKAT








mengapa harus bertopang pipi
karena mendung di luar sana
apakah selembar tiket itu
tak pernah sampai di atas meja
tentang sebuah perjalanan

mengapa harus bertopang dagu
dan duduk termangu di sebuah bangku
apakah tak ada lagi tempat menunggu
meskipun di selasar waktu
untuk sekadar saling bercumbu

padahal kau tahu bagaimana
menyingkapkan seluruh rindu
sebelum tumbuh menjadi benalu
dan cemburu membakar hasrat
menjadi musuh di balik belikat

maka biarkan kini semua khianat
menyayat setiap martabat
jika cinta bukan lagi hakikat
di mana kesetiaan menjadi jerat
apalagi menjadi malaikat penyelamat

meskipun yang tersisa kelak
hanya sebatas harkat untuk dibaca
bukan sebagai hikayat
di antara puisi dan prosa
tersimpan kebebasan seluruh makna

: terjemahkanlah....

Denpasar 26 02 2016 - ilustrasi : google

Tidak ada komentar:

Posting Komentar