Sabtu, 14 Maret 2015

MATA IKAN

di kedalaman kolam
engkau menjelma ikan
bersirip dan bernapas insang
mata ikan, mata ikan
: mengerjap
gelembung-gelembung air



DPS 14 03 2015

Jumat, 13 Maret 2015

MERANGGAS


di ceruk gelas mengapa tinggal ampas

padahal rindu yang kutuang dengan ikhlas
telah kau reguk hingga tandas

tapi kau tetap saja membuatku sesak napas
bukankah semua terbayar lunas
dan kau masih saja belum merasa impas
haruskah aku meranggas tanpa batas




DPS 14 03 2015

Kamis, 12 Maret 2015

OPERA


di sudut panggung mana lagi harus berdiri
hanya untuk membuka layar
dari setiap cadar untuk dimainkan

berlapis-lapis sudah ditanggalkan
tetapi wajahmu masih juga tersimpan
di balik kelam serupa bayangan

percakapan demi percakapan yang kau lafalkan
telah menelanmu dari setiap ungkapan
di antara tawa dan tangis yang merasukimu
seperti membuatmu berada dalam sebuah opera sabun

di sana kau hanya dapat menggelembungkan diri
dari setiap ilusi pada setiap pendaran cahaya lampu
yang membuat setiap lapisan wajahmu bersemu
tanpa pernah lagi kau ingin menanggalkannya

meskipun pertunjukan telah usai
layar telah ditutup, panggung telah sepi
dan cahaya lampu telah padam

di sana kau temukan dirimu dalam kesendirian
menjadi bagian dari kegelapan
yang tak dapat lagi kau lepaskan



DPS 12 03 2015 - ilustrasi : google

Senin, 09 Maret 2015

GARPUTALA


mungkin tak ada lagi yang perlu ditawar
ketika kau menjual dan aku membelinya
kegaduhan itu selalu bernada dasar
dari sebuah ruang pasar yang terbuka


di bursa-bursa nada tempat menanam saham
ada melodi-melodi tersembunyi
dari sebuah orkestra simponi
mungkin juga sebuah refrain dari gesekan biola

tapi dengarlah penyanyi seriosa itu
ketika melambungkan setiap nada
pada bilangan-bilangan stakato
dan menjatuhkannya pada tangga nada
di antara trombone dan piano

kecuali kau ingin mendengar nada-nada murni
di telingamu dari ujung tangkai garputala
pada lapisan-lapisan sol mi dan do
maka kau akan tahu mengetuknya
sebagai vonis terakhir dari kegaduhan itu

dan di sana kau akan mulai mendengar
irama harpa yang anggun dicabik-cabik
oleh jemari-jemari lentik seorang perempuan
yang mungkin tak pernah kau mengenalnya



Denpasar 09 03 2015 – ilustrasi : google

Minggu, 08 Maret 2015

Minggu 08 Maret'15 Puisiku tayang di 2 Media Cetak : INDOPOS & PR Bandung


INDOPOS                                                                PR Bandung


Jumat, 06 Maret 2015

MENEPUK DI PELAMINAN


bagaimana mungkin aku dapat melimpahkan
seluruh kata menjadi makna ke dalam kerinduan
ketika seluruhnya menjelma serupa bayangan

lihatlah jarak dan waktu terus saja merentangkan
penantian-penantian panjang yang membuatku
selalu saja tersudut di ujung pelaminan

haruskah aku bergumul di sana hanya untuk
menumpahkan seluruh keperempuananku yang tersisa
seperti menepuk air di dulang terpercik muka sendiri

mungkinkah aku berpaling dari setiap percikan
dan membiarkan gaunku tersingkap basah
dari setiap ungkapan sebagai sebuah pemaknaan

kini semua telah menggenang di permukaan
begitu transparan bukan lagi sebagai bayangan
di mana setiap lekuk keprempuanku terpampang

masihkah kau melihat dengan kejalangan
dari setiap perselisihan menjadi perhitungan
di mana seluruh harga diri telah kupertaruhkan

bukan renungan dan kepastian yang kuharapkan
tapi kebimbangan yang terus kau limpahkan
dan aku tetap mendulang dengan keikhlasan



DPS 06 03 2015 - ilustrasi : google

PERAN





sebenarnya aku tidak ingin menjelma apa pun
kecuali sebagai perempuan biasa
menanak setiap impian di rumah
menghidangkan di atas meja yang kosong
tanpa menghitung setiap devisit waktu
untuk tidak selalu tersudut dalam kesendirian

sebenarnya aku hanya ingin menanam rumput
meskipun di pekarangan rumah yang sempit
bukan ilalang yang tumbuh dengan liar
sehingga menyemakkan bunga-bunga
hanya untuk menumbuhkan duri di batangnya

sebenarnya aku hanya ingin merebahkan diri di ranjang
bukan sekedar memejamkan mata dari setiap erangan
hingga impian hanya menjadi igauan berkepanjangan
untuk menanggalkan penyesalan dari sebuah pengabdian
melainkan sebagai perempuan pilihan penjaga kesetiaan

tapi kini aku harus menjadi penyangga waktu
di antara atap rumah, tiang, dan dinding
di mana bayang-bayanganku terus berkelebat
dan sering terkapar di ruang yang samar
di antara cahaya dan kegelapan
untuk selalu kukenakan dari setiap peran
sebagai pengganti buah-buah pengingkaran
dari setiap alasan untuk diranumkan

 
DPS 03 03 2015 - ilustrasi : google