Jumat, 16 Oktober 2015

PEREMPUAN WAKTU




seharum apakah bunga
hingga kau ingin menciumnya
seindah apakah kelopaknya
sehingga kau lekat-lekat menatapnya

secantik apakah parasku
sehingga kau memujanya
seelok apakah lekuk tubuhku
sehingga kau ingin tumpahkan birahimu

aku bukanlah hawa yang diturunkan dari kesepian adam
aku bukanlah rabi'ah yang melepas keikhlasan duniawi
aku bukanlah dewi sinta, dipuja rama dan dasamuka
di tubuhku tak ada sejarah perempuan

dari semua kisah itu yang ada hanya
bayanganku sendiri di mana selalu
membuatku khilaf dan terasing dari ruang dan waktu
itulah diriku tempat bersemayam jiwaku


DPS 13 10 2015 - ilustrasi : na

Jumat, 09 Oktober 2015

MELINTAS




kulihat sosok bayangmu
melintas di antara ruang-ruang semu
menggeliat sesaat di antara sisa waktu



DPS 10 10 2015 - ilustrasi from google

LEMBAB




mendung memang kelabu
tapi hujan belum tentu
hati perempuan siapa yang tahu


DPS 09 10 2015

Kamis, 08 Oktober 2015

SUDUT PANDANG


hanya laut, katamu, tempat ombak,
mengisahkan buih bibir pantai
dan cakrawala tempatmu menarik garis
untuk semua batas-batas impian


selebihnya, kau berkisah tentang
anak-anak nelayan di sepanjang pesisir
bernyanyi tentang cangkang kerang
tanpa sebutir mutiara di dalamnya

juga tentang perahu-perahu tanpa layar
dayung-dayung yang patah
burung-burung camar yang memekik
di antara debur ombak dan nyaris tak terdengar

semua kau kisahkan dengan fasih
mengalir seperti arus pasang
kadang membuatku hanyut
melihat samudra di kornea matamu

dan kadang aku melihatmu berdiri kokoh
seperti batu karang disaput cahaya matahari
begitu berkilau dan membuatku
harus mengenakan kacamata hitam

padahal terkadang aku ingin bertanya
pernahkah kau mengisahkan tentang diriku
ketika hari-hari kulepaskan bersamamu
hanya untuk melintasi dunia yang nyata

tapi aku hanya mendapatkan seulas senyum
merekah di sudut bibirmu tanpa pernah dapat
kuterjemahkan dengan kisah yang lain
sekedar kupahami sebagai seorang perempuan

tanpa pernah kau tahu, mungkin tak ingin tahu
jika aku sebenarnya berulangkali terdampar
di dalam kisah-kisahmu yang berulang-ulang
tanpa pernah juga kutahu awal dan akhirnya

mungkin setelah kita saling bertukar tempat
kau baru dapat memahami tentang sebuah hati
berkilau seperti sebutir mutiara
di dalam cangkang kerang yang tertutup




DPS 08 10 2015 - ilustrasi : na

TAK ADA WAKTU UNTUK BERBAGI




tak akan pernah dapat kaujamah sedikit pun
apa yang sudah menjadi milikku
sekalipun untuk mendapatkan remah-remahnya
dan kau berusaha membelah cermin
maka tak akan ada sekeping pun
yang dapat menggores apa yang telah kugariskan

berkacalah pada retakan-retakan waktumu
hingga kau akan tahu tak semua rajah
sampai di ujung jari untuk menunjuk
pada kodrat yang sama, meskipun
telah kau tumpahkan sisa anggur dalam gelas
sebab kau tak akan pernah tahu
bagaimana sebenarnya menuangkan sebuah hati


DPS 07 10 2015 - ilustrasi : na

ISPA CINTA


sudah kulampirkan seulas senyum
sebelum semua dituangkan
di malam-malam yang basah oleh mimpi
di mana setiap bisikan tak lagi
menyajikan desah yang resah


dan kau menyeringai dalam buai
ketika setiap kelakar membuatmu terbakar
oleh gairah yang membuatmu terjajar
: aku mencium harum mawar, katamu

aku mengumbar senyum yang hambar
sekedar penawar dengan tangan melingkar
untuk merengkuh gelisah yang menjarah
jika kau bukan lelaki yang membuncahkan
lapisan kesepian di ujung gaun

tanpa pernah kau tahu, jika ada duri
menjadi pernik-pernik di setiap lipatan malam
untuk kau temukan sebagai imbalan
jika kesetiaan ada di setiap kelopak harum mawarku

maka aku pun membiarkanmu
terpejam dengan seulas senyuman
tanpa kau tahu bau tubuhku
menjadi satu dengan tubuhmu
dan kita sama-sama menghirupnya
dengan lenguhan-lenguhan panjang
( tanpa kita perduli menjadi ispa
dalam setiap napas cinta... )



DPS 05 10 2015 - ilustrasi ; google

Kamis, 01 Oktober 2015

SIUL HUTAN TERBAKAR


tak kudengar lagi kisahmu
tentang burung-burung
memburu kebebasan
di antara bentangan langit biru
kecuali lengking yang parau
di antara sisa hutan terbakar


gumpalan-gumpalan asap
telah membalur dinding langit
menjadi begitu kelabu
dan kisah sayap-sayap burungmu
tak dapat mengibaskan
seluruh kepengapan
yang menyesakkan ruang dada

kini kau tak tahu lagi bagaimana
menghinggapi seluruh kisahmu
hanya pada setangkai ranting
tempat menunjukkan arah mata angin
karena semua telah menjadi bara
yang lebih tajam dari cakarmu

dan yang tersisa dari seluruh kisahmu
hanya lepuhan yang memanggang
hingga jauh ke ujung musim
tanpa pernah kau tahu kapan akan berganti
di mana kau dapat menyiulkan
semua harapan yang pernah tertunda




DPS 02 10 2015 - ilustrasi : NA