Jumat, 15 Juli 2016

GOYANG DANGDUT


coba kau ingat-ingat irama dangdut itu
meliukkan setiap lekuk pinggulku
kedua ujung jari telunjuk kita pun menggelitik udara
menggelinjangkan suasana pada setiap langkah
melewati dunia yang nyata untuk tidak selalu terjaga
membuat hidup menjadi lebih sederhana


tabuhkan gendang, tiupkan seruling
dalam setiap hentakan dan ayunkan badan
biarkan pinggang malam dirangkul kelam
masih banyak impian untuk dicumbu
sebelum bulan kesiangan
menjadi pungguk di hari memabukkan
jika kau memang seorang pejantan
bukan sebagai pecundang


Denpasar 15 07 2016

Selasa, 12 Juli 2016

JINAK-JINAK MERPATI


sekarang aku lebih jinak dari merpati
meskipun tak lagi bersayap langit
juga tanpa perduli ke mana harus terbang
meskipun ada ranting pohon tempat berpijak
tapi aku bisa kabarkan padamu
tentang jarak yang membentang tanpa batas


mungkin jinakku adalah jinak merpati
birahiku tak akan pernah dapat kau tangkap
meskipun aku telah mendekat dan kau silap
dengan ilusi yang mengendap untuk mendekap
tapi mendapatkan sisa-sisa sayap terlepas
di antara napasmu yang terkuras

sekarang aku mungkin jinak-jinak merpati
bukan dapat terbang rendah atau tinggi
kecuali sebagai naluri untuk tak dikebiri
jika kebebasan lebih berarti dari sebuah hati
dan kesetiaan itu memang abadi


Denpasar 10 07 2016 - ilustrasi from google

Minggu, 10 Juli 2016

PSIKOPAT




 --Kolaborasi bersama Maya Azeezah--

PSIKOPAT I
karya : Maya Azeezah

menatap gayamu menyuluh sebatang cerutu
dan sebuah pemantik di hadapmu
nyala baranya seperti kama yang kau mainkan
pada satu tubuh semalaman


hirup cerupan pertama begitu dalam
mengakhiri puncak kepuasan
sedalam rasa yang kau tumpahkan
pada tubuh perempuan lugu yang kau serang

kau lelaki bercerutu tak kenal durhaka
gagahi setiap raga dara nan bening
bermodal puluhan lembar rupiah
dan janji segelas anggur merah

ingat ! tawamu bukan akhir dari kebejatan
tetapi awal dari semburan karma
sebagai hukuman berjalan yang mutlak
kepada anak daramu yang kau simpan di rumah

‪#‎MayaAzeezah09072016‬



 PSIKOPAT II
Karya: Nunung Noor El Niel

aku telah memperkosa setiap musim
mengkorupsi sebuah hati
dan memperkosa semua impian

aku adalah bayangan yang selalu
menyelinap di antara kebenaran dan kekhilafan
berada pada cahaya dan kegelapan

aku akan membuatmu atau siapa saja
dalam kesangsian jiwa-jiwa yang kosong
di sana aku berdiam dalam keabadian


 #NunungNoorElNiel09072016‬

Sabtu, 02 Juli 2016

KODRAD YANG DIGAUNKAN



Seperti burung-burung yang terbang di udara
Waktu serasa bersayap angin mengepak
Berhembus bersama awan-awan
Menciptakan mendung di sudut-sudut langit

Tak dapat lagi kuputar seluruh waktu
seperti sebuah haluan menjadi buritan
Setelah terlanjur kutahu, jika di palka
Masih ada laut menyimpan gelombang
Ternyata ada yang tak pernah tersandarkan

Tetapi bukan harapan, juga bukan keputusasaan
Bukan juga sebuah catatan harian tak terbaca
Untuk terus dihafalkan sebagai cerita
Tanpa awal dan akhir untuk selalu dikisahkan

Sudah telalu lama aku menjelmakan diriku
Menjadi peri untuk semua impian
Ketika kutahu tak ada bulan di ranting malam
Dan matahari membatangkan siangnya
Aku hanya ingin kelembutan dan kehangatannya

Maka biarlah, langit, laut dengan kisahnya sendiri
Malam dan siang menjadi peristiwa ruang dan waktu
Di mana aku terjaga dan terlelap, jika kodratku
Telah digaunkan bukan untuk dicabikan dan dinistakan

DENPASAR 29 06 2016 - ilustrasi from google

Jumat, 24 Juni 2016

NAPAS PUISI


aku ingin tetap bersamamu
menyusuri kelengangan
dengan napas puisi tak selesai ditulis

sekalipun hari terasa begitu jingga
dengan dada selalu terbuka
pada keikhlasan memberi dan menerima

seperti awal dan akhirnya
di mana kita saling menyapa
penuh kasih dan cinta melebihi segalanya


Denpasar 21 06 2016

MENGURAI BENANG YANG KUSUT



apakah aku harus terus mengurai
setiap benang yang kusut agar tak putus
hingga menjeratku sendiri
tanpa pernah kutahu lagi
di mana ujung dan pangkalnya

sudah kujalin rambutku, meskipun
di antara retakan-retakan cermin
meskipun bayanganku tak lagi sempurna
tapi masih ada yang utuh tersimpan
untuk kelak kupersembahkan

mungkin pada sebilah waktu
cahaya itu akan mengurapi
setiap kekhilafan
bukan hanya menjadi bayangan
tapi keinsyafan

dan aku akan tahu bagaimana
mengurai yang tak kusut
juga aku akan tahu
mana tak berujung dan berpangkal
dengan kerendahan sebuah hati

Denpasar 24 06 2016 - ilustrasi from google

SEROMBOTAN


mungkin aku tak perlu berkisah
menyajikan menu puputan
dari tanah kelungkung
penuh dibumbui napas tradisi


: "srombotan!" katamu
ketika kulihat kau menyiangi
daun-daun hijau
kacang-kacangan
dengan bahasa santan
kau taburkan di atasnya

selera pun tumbuh di atasnya
penuh spritualitas cinta
sebagai persembahan
di seluruh tanah para dewata

: "serombotan." kataku
tanpa pernah berhenti mengunyah
dan melahapnya sampai tandas
tanpa menyisakan kata yang tuntas
untuk memuja setiap rasa
bukan hanya sebagai berhala
tapi memang demikianlah adanya


Denpasar 13 06 2016


---------
Catatan:
Serombotan makanan khas Bali dari Klungkung.