Mawar adalah aku, kelopakku semerah saga, batangku berduri, harumku semerbak mewangi : KUMPULAN PUISI NUNUNG NOOR EL NIEL
Kamis, 20 Februari 2014
Ada Dan Tiada
jalan itu telah kutempuh
di antara kegelapan dan cahaya
membeku dan juga terbakar
dan hanya waktu pilihanku
menjadi sebuah putaran waktu
hanya dengan mengikuti mata angin
aku dapat memetakan kembali
seluruh jalan-jalanku yang hilang
meskipun mungkin aku tak tahu
apakah berada di masa depan atau masa lalu
juga aku tak perduli apakah
setiap pertanyaan menjadi jawaban
atau jawaban menjadi pertanyaan
sebab akhirnya semua bermuara
pada kisah yang sama
maka biarkan diriku berada
pada ada dan tiada
di antara ruang maya dan nyata
dan kau tetap menyapaku
dengan apa adanya
Denpasar 21022014
PUZZEL
jika kau tahu pikiranku sama dengamu
tentang hujan
mungkin kau tak perlu kecewa
karena aku pun kuyup olehnya
ketika kau menyusun bayanganku
pada puzzel itu kau selalu saja terlambat
hingga waktu meruntuhkannya
tanpa arsiran apalagi garis
untuk memperjelas langkah kita
dan jika kerinduanmu tak lagi berdenyut
dan mengalir pada pembuluh nadimu
mungkin seluruh darahku telah menjadi putih
maka jangan salahkan aku jika
aku hanya menjadi hembusan sesaat
pada setiap helaan napasmu
: sebab aku hanya angin
Denpasar 21022014
Senin, 10 Februari 2014
GAUN WAKTU
gaun yang pernah kutanggalkan
masih juga kau simpan
padahal aku telah melupakannya
dan kau ingin aku mengenakan lagi
dulu, di gaun itu, kau pernah
percikkan pelangi,
hingga aku terpesona
membuatku menjelma peri
dan terbang jauh melewati kenyataan
menyusuri setiap lekuk warna
seperti kau menyusuri setiap lekuk tubuhku
hinga aku telanjang di hadapanmu
di atas tubuhku, peta pun kau bentangkan
dengan setiap bisikan dan napas tertahan
membuatku hanya menggeliat dan tersesat
semakin jauh ke dalam kumparan warna
ketika aku terjaga, gaun itu terserak
penuh dengan sisa-sisa jejak perjalananmu
maka aku tanggalkan hingga warnanya pudar
meskipun masih tercium bau tubuhmu
aku tak dapat mengenakannya lagi
Denpasar10022014 – ilustrasi : google
masih juga kau simpan
padahal aku telah melupakannya
dan kau ingin aku mengenakan lagi
dulu, di gaun itu, kau pernah
percikkan pelangi,
hingga aku terpesona
membuatku menjelma peri
dan terbang jauh melewati kenyataan
menyusuri setiap lekuk warna
seperti kau menyusuri setiap lekuk tubuhku
hinga aku telanjang di hadapanmu
di atas tubuhku, peta pun kau bentangkan
dengan setiap bisikan dan napas tertahan
membuatku hanya menggeliat dan tersesat
semakin jauh ke dalam kumparan warna
ketika aku terjaga, gaun itu terserak
penuh dengan sisa-sisa jejak perjalananmu
maka aku tanggalkan hingga warnanya pudar
meskipun masih tercium bau tubuhmu
aku tak dapat mengenakannya lagi
Denpasar10022014 – ilustrasi : google
Mahar Kenangan
kota ini bermahar langit kelabu
jalan-jalan yang basah
aku berulangkali singgah di sini
membuka ruang jeda
sekedar mengingatmu
jika masih ada yang tersisa di sini
tapi apakah kau mengingatnya
seperti aku mengingatmu saat ini?
entahlah, aku kadang tak ingin
tersesat begitu jauh dari sebuah pertanyaan
sekedar untuk mendapatkan jawaban
aku hanya ingin mengingatnya
sebagai sebuah kenangan
karena hanya itu yang dapat kumliki
dari apa yang kautinggalkan
Denpasar 08022014- ilustrasi : Na
Kamis, 06 Februari 2014
Menata Waktu
badai sudah reda aku masih berdiri di sini
di antara puing-puing, menyusun batu-batu
biarkan aku menata kembali seluruh bangunan
agar kau tahu fondasiku adalah sebuah hati
tiang, langit-langit dan dinding boleh
runtuh
tapi tidak untuk sebuah hati
di sanalah dasar seluruh impianku tertanam
dan berakar dari sebuah peta perjalanan
panjang
di mana aku pernah melaluinya dalam suka
dan duka
tak ada dendam dari masa lalu
hanya untuk membuat alasan menyerah
bukan pula karena harapan ke masa depan
aku berpaling meninggalkan puing-puing
tapi aku akan tetap di sini, menata kembali
istana kecilku meskipun hanya untuk
berteduh
Denpasar06022014 –ilustrasi : NA
Denpasar06022014 –ilustrasi : NA
Senin, 03 Februari 2014
Hujan Dalam Tidur
kau kirim hujan sejak semalam ke dalam tidurku
seluruh mimpiku pun telah tenggelam dan hanyut
terbawa banjir yang tak dapat kubendung
dengan seulas senyuman tipis di sudut bibirku
pada saat aku terjaga, burung-burung
mengibaskan sayapnya dari sisa hujan
mereka seperti juga aku tak dapat terbang
dengan tubuh yang menggigil
tapi aku akan tetap mengalirkan seluruh waktu
sekalipun ke dataran kenyataan yang lebih luas
di sana aku akan membentangkan seluruh harapan
di mana kau menebarkan pukat-pukatmu
hanya mungkin kau jangan kecewa, jika ternyata
kau tidak dapat memukat diriku, meskipun
kau telah menerjemahkan dirimu sebagai hujan
yang turun di luar musim-musim yang jauh
sebab mungkin aku telah mengaminkan keyakinanku
sebagai seorang perempuan untuk tidak
menanggalkan diriku hanya oleh hembusan rayuan
yang kau sisipkan pada setiap bisikan-bisikan tajam
dengan bahasa manteramu
aku tetap tegak di sini berdiri di bawah hujan
menunggu dengan sabar hingga seluruhnya mereda
baru aku akan melangkah, meskipun di jalan yang basah
Denpasar04022014 – ilustrasi : google
AJARKAN
ajarkan padaku tentang malam
agar aku tahu lembutnya cahaya bulan
dan kerlipnya bintang
meskipun di bawah langit kelam
ajarkan padaku tentang siang
agar aku tahu matahari bersinar
dari pagi hingga petang hari
hingga semua tampak nyata adanya
ajarkan padaku tentang rahasia cinta
untuk tetap mengasihi
di antara suka dan duka
sehingga kehidupan tetap terjaga
ajarkan padaku tentang sebuah hati
untuk selalu memberi dan menerima
agar aku tahu keikhlasan
sebagaimana adanya
Denpasar03022014
Langganan:
Komentar (Atom)



