Rabu, 23 Maret 2016

JALUR SUTRA


di balik kulit ras yang mengelupas
di antara kain sutra dan minyak zaitun
peradaban tumpah dan mengalirkan sejarah
tapi mengapa bisikan-bisikan liar itu
menghembuskan kebencian
haruskah menenun kembali setiap ikatan
dari cawan anggur darah hanya untuk bersulang


jalur sutra itu kini tinggal sebuah lagenda
dari sebuah perjalanan panjang yang terputus
hanya menyisakan jejak-jejak kaum musafir
dengan tiang-tiang pancang dari sebuah daratan
di mana setiap batas menjadi sebuah koloni
hanya untuk memasung setiap keyakinan
sebagai sebuah peradaban baru dalam kepompong
tanpa pernah meretasnya menjadi kupu-kupu

lalu di mana lagi jazirah musim bunga tempat bersemi
dapat dihirup seluruh anak bangsa di luar warna kulit
kecuali melepuhkan dengan pengingkaran
setelah setiap ayat diaminkan sebagai perumpamaan
tanpa dapat menentukan sebuah pilihan
dan setiap perempuan menyalin setiap harapan
hanya dari ujung gaun yang dikenakan

maka kini biarkan serbuk sari bunga itu dihembuskan
keseluruh penjuru mata angin, meskipun
tanpa sayap kupu-kupu di sepanjang jalur sutra
tempat peradaban itu berawal dan berakhir
bukan lagi hanya untuk kaum musafir


Denpasar, 05 02 2016

PANTANG MENJILAT LUDAH SENDIRI





bukan aku ingin sucikan setiap musim
ketika tak kukenakan gaun keperempuananku
aku hanya ingin melangkah lebih cepat di depan waktu
sebelum seluruh riasku melepuh dari seluruh tubuh
tempat di mana cermin selalu dipantulkan
bukan untuk dibasuh hanya dengan kenistaan

jangan pernah kau menghitung setiap desah napasku
jika jantungku berdetak lebih keras memburu
dan kau terjemahkan dengan gairah yang palsu
seandainya kau mengenal setiap bisikan-bisikanku
untuk menajiskan setiap kata yang terlanjur diludahkan
pantang bagiku menjilat kembali dengan lidah yang sama

sungguh bagiku mengulum kata bukan sekadar rayuan
penghisap setiap kejantanan dan mendengar eranganmu
sebagai pemujaan padahal kutahu kau hanya menguapkan
udara di antara waktu yang tersisa di mana kita
hanyalah sisipan-sisipan setiap percakapan ruang kosong

: sebelum kita menutup kartu yang sama

Denpasar 03 03 2016 - ilustrasi : ghoogle

PETITIH


sudah kau tegakkan benang yang basah
masih juga mencoba mencampur minyak dengan air
padahal kau tahu sudah kepalang basah
masih juga ingin menepuk air di pendulangan


jangan salahkan rusak susu sebelanga
hanya karena nila setitik
jangan salahkan bunda mengandung
hanya karena nasib tak beruntung


Denpasar 29 02 2016

Lelaki yang Terhempas


lelaki yang menyimpan malam
menyisakan kedalaman laut
terhempas di tepi usia dengan garam di sudut bibir
mengunyah kelamnya gairah dalam percakapan


lelaki itu hanya dapat mencumbui bayangan
dengan erangan-erangan tertahan
di mana cinta disuguhkan dalam kemasan
sebagai sebuah penawar gariah yang terhambat

lelaki itu telah berlabuh di sebuah pantai tak bertepi
di sana hanya ditemukan cankang kerang
membuatnya menjelma seekor siput yang melata
di antara bongkahan karang yang menjulang

lelaki itu pun kehilangan peta perjalanan
menunggu jawaban yang tak pasti
kecuali menunggu angin berhembus
untuk membuka semua layar sisa impian



Denpasar 27 02 2016

HARKAT








mengapa harus bertopang pipi
karena mendung di luar sana
apakah selembar tiket itu
tak pernah sampai di atas meja
tentang sebuah perjalanan

mengapa harus bertopang dagu
dan duduk termangu di sebuah bangku
apakah tak ada lagi tempat menunggu
meskipun di selasar waktu
untuk sekadar saling bercumbu

padahal kau tahu bagaimana
menyingkapkan seluruh rindu
sebelum tumbuh menjadi benalu
dan cemburu membakar hasrat
menjadi musuh di balik belikat

maka biarkan kini semua khianat
menyayat setiap martabat
jika cinta bukan lagi hakikat
di mana kesetiaan menjadi jerat
apalagi menjadi malaikat penyelamat

meskipun yang tersisa kelak
hanya sebatas harkat untuk dibaca
bukan sebagai hikayat
di antara puisi dan prosa
tersimpan kebebasan seluruh makna

: terjemahkanlah....

Denpasar 26 02 2016 - ilustrasi : google

PUISI KARTINI

KARTINI

aku membaca menjadi perempuan
aku menulis menjadi perempuan
aku membaca dan menulis
menjadi ibu dari semua perempuan



Denpasar 10 03 2016

 --------------


2/ HABIS GELAP


surat-suratku mungkin tak pernah sampai
ke dalam impian-impianmu
tapi aku berharap kau tetap terjaga
dan menunggu suratku akan tiba
untuk kau baca, meskipun mungkin
melalui pos waktu dengan kisah
serta zaman yang mungkin berbeda


di dalam kegelapan ini aku hanya dapat
mencatat, di bawah lampu uplik
untuk menerangi seluruh adat di mana kami
harus berjalan bersijingkat
di antara lipitan-lipitan kain tanpa perlu bertanya
di mana harus bersimpuh sebagai kodrat

surat-suratku dari gelapnya waktu
tapi aku percaya kelak semua akan berlalu
dan kau akan membacanya
dalam cahaya yang terang

Denpasar 19 mar 2016
-----



3/ TERBITLAH TERANG

ada gelap ada terang
aku sudah membaca suratmu
di antara lembaran waktu
setiap kata adalah makna
dan terbit dalam terang


akulah perempuan sepertimu
yang berdiri di antara cahaya
di mana pintu peradaban
tak lagi berdiri di belakang
dan kita akan melangkah
menuju masa depan

di sana semua impian perempuan
akan dilahirkan dalam keagungan

Denpasar 19 mar 2016



IMPIAN YANG SEKSI


bukankah kau sudah berjaga-jaga di luar mimpi
mengapa kau masih juga mengigau
melapisi setiap gaun malam dengan kelam

bukankah kau sudah melihat setiap bayangan
memantulkan setiap lekuknya
hingga tatapanmu tak mengerjap sepicing pun

kalau begitu, biarkan impian yang seksi itu
menggumulimu hingga terlelap dalam erangan


Denpasar 21 03 2016