Selasa, 21 Oktober 2014

LOSS


seruputan kopi pagiku
terasa pahit di lidah
karena teraduk gula ego

ada korek api yang hilang
aku tak dapat menghembuskan
asap malam atau siang

sepanjang jalan airmataku menetes
dan aku hanya bisa menyaputnya
diam-diam...



DPS 23102014

Senin, 20 Oktober 2014

BUKAN SEBUAH LAGENDA



mengapa kau kirimkan terik pada siang
ketika hanya peluh yang membasuh jiwaku
mengapa kau biarkan aku meranggas
dengan napas yang tersenggal
dan membiarkan diriku terbakar

lihatlah, kini aku tak dapat lagi meliukkan
setiap lekuk bayanganku yang begitu samar
seperti ketika kau pertamakali
berbisik pada liang telingaku, jika setiap bayangan
adalah sebuah dongeng untuk setiap impian

bisikanmu yang begitu dalam saat itu
membuatku seketika tersihir
dan tanpa sadar aku telah menari
di atas liukan setiap inci tubuhku sendiri
aku dapat bersijingkat pada jari-jari kakiku
dan melangkah ringan seperti angsa terbang
di atas permukaan danau yang luas
dengan pekikan-pekikan manja

tapi setelah aku berada di seberang kenyataan
semua impian itu tinggal bayangan
di permukaan air yang bergelombang
yang kemudian berlahan-lahan tenggelam
ke palung dasarnya yang paling dalam
dan aku tak dapat menjelma menjadi seekor ikan
untuk menyelami perasaan yang terdalam

kini aku hanya dapat berdiri termangu
di tepi-tepi impian, menunggumu
di permukaan dengan sisa-sisa kesetiaanku
dari keyakinan yang masih kumiliki
meskipun mungkin aku akan menjadi
batu yang berlumut sebagai prasasti
tapi mungkin tidak lagi sebagai batu menangis
hanya untuk menciptakan sebuah lagenda
dan hanya menjadi sebuah dongen semata

( sebab kau dan aku adalah nyata adanya...)

 
Denpasar18102014 -- ilustrasi google

Rabu, 15 Oktober 2014

TERSAPUT OLEH HUJAN


tersaput sudah udara yang lembab oleh hujan
pertengahan oktober. membasuh terik

tapi tidak kisah itu. masih memanggang
menjerang semua percakapan, mungkin
bisikan atau erangan tak bertautan
samar di antara suara gemercik hujan

waktu pun seperti tak terbilang
tak ada yang bisa diredakan
ketika semua sudah terlanjur sayang

menikahi bisikan-bisikan tertahan
sudah terlampiaskan pada setiap pertemuan

tidak ada yang perlu disesalkan
untuk memilih jalan-jalan yang basah
di antara bau tanah yang meruap
seperti tubuh yang melindapkan bayangan

seperti hujan yang tak lagi mengenal musim
tak ada lagi yang memang perlu dicatat
dari setiap kealpaan bukan sebagai pengingkaran

biarkan hujan bulan oktober menderas dan mereda
meskipun harus berpayung dalam bayangan

 


Denpasar 15102014 - ilustrasi : google

LENGKUNG


bermukim pada hujan
batang-batang berjamur
mengendapkan gigil
udara penuh tuba
basah berayun pada ranting


ada yang mengembun pada kaca
sisa-sisa kenangan
ada sebuah nama di situ
untuk tidak disebutkan
seperti cuaca pada musim

bermukim pada kenangan
setelah gerimis menipis
di bibir langit senja
menggariskan seulas senyuman
dengan lengkungan pelangi
menyisakan sihir



Denpasar 1310 2014 - ilustrasi : google

PINANGAN



petang itu aku telah menunggumu di beranda
aku berteduh pada langit biru yang terbuka
dan semilir angin yang membawa kabar tentangmu
jika kau akan tiba sebelum hari senja
untuk mengisahkan padaku perjalanan waktu
seperti pada lembaran-lembaran puisi
sebagai sebuah peta penunjuk arah

mungkin kau akan sampai dengan wajah yang pucat,
tubuh yang lusuh dan bibir yang pecah-pecah
disebabkan oleh teriknya matahari
tetapi tidak mengelupaskan keluhan, kecuali
kau akan katakan padaku untuk menyajikan
segelas air putih sebagai pelepas dahagamu

tapi jangan cemas, aku akan menyambutmu di beranda itu
dan aku akan menyuguhkanmu apa yang kau rindukan
sebelum aku mendengar kisahmu tentang
burung-burung yang melintasi musim yang jauh
dengan kepak sayap-sayap sunyi dan kicaunya
yang selalu menyenandungkan harapan
untuk segera sampai tempat tujuan
seperti juga yang selalu kita angankan bersama

ya, di sini, di sebuah beranda, di tepi waktu
aku akan setia menunggumu, meskipun mungkin
tak pernah tahu kapan kau akan tiba
aku hanya dapat menata perasaanku serapih mungkin
seperti aku menata rambut dan gaunku
agar kau tetap dapat tersenyum dan berbisik padaku
: aku meminangmu

 
Denpasar 09102014 - ilustrasi google

Senin, 06 Oktober 2014

DARI HILIR HINGGA HULU




kadang aku ingin mengalir seperti air
dari puncak-puncak gunung yang ditutupi kabut
melewati pinggang-pinggangnya yang subur
tapi aku tak tahu di mana hilirnya
sehingga aku mengalir begitu saja
mengikis setiap bebatuan dengan gemercikku

kadang aku ingin mengalir ke suatu lembah
dan menciptakan sebuah danau yang sejuk
membentang dengan gelombang yang tenang mengalun
tetapi aku tak pernah tahu sedalam apa lubuknya
dan di mana ikan-ikan dapat menetaskan telurnya

kadang aku ingin mengalir jauh ke hulu
melepaskan diriku di muara dan ke laut yang luas
dengan gairah ombak yang menampakkan lekuknya
jauh hingga melampaui garis batas horison
di mana para nelayan dengan perahu cadiknya
mengembangkan layar seluas cakrawala

kadang aku hanya ingin mengalir dalam impian
di mana aku tak pernah terjaga
untuk menampung semua ingatan dan kenangan
dalam sebuah perjalanan panjang tanpa pernah perduli
di mana hilir dan hulu itu, berawal dan berakhir

 
Denpasar 0610 2014 -ilustrasi : google

KOPI SENJA


senja menyalip senyumku
di tikungan jalan pulang
sebelum pelupuk malam
mengatupkan kelam

hingga menyesatkanku
pada kejalangan
hanya untuk menumpahkan
secangkir kopi hitam

meskipun aku harus menyeruput
sisa-sisa ampas di ceruknya
tapi aku masih dapat menghirup
setiap aroma yang menguar

sebelum semua impianku terkapar
aku masih dapat mengumbar
hasratku yang terdampar
dengan sedikit berkelakar

 


DPS 02092014 - ilustrasi : google