Selasa, 19 Januari 2016

BURUNG SEGALA BURUNG





untuk apa bersayap jika tak dapat terbang
apakah hanya berlari seperti burung unta
di padang-padang yang terbuka

untuk apa berekor indah penuh keanggunan
jika seperti merak berbulu semarak
hanya untuk dipandang mata

untuk apa menjadi seekor burung gagak
jika terbang tinggi hanya untuk
memangsa anak ayam di balik-balik semak

untuk apa menjadi burung pungguk
jika hanya bertengger di bawah bulan
bermandikan cahaya kerinduan

untuk apa menjadi burung segala burung
jika tak berkicau atau memekikkan kebebasan
ke seluruh penjuru mata angin

maka aku pun memilih apa yang tak kau pilih
meskipun tanpa sebuah ungkapan
di mana kehormatan tidak untuk diajangkan

Denpasar 16 11 2015

MEMINTAL DASTER




sudah terlalu lama aku tak mengenakan daster
di udara yang pengap dalam pergantian musim
aku pun hanya dapat menyalin waktu
meski seluruh tubuh terpanggang atau menggigil
tanpa memberi sebuah pilihan sedikit pun
agar aku dapat menarik napas dengan lega
sejak matahari terbit dan tenggelam
bahkan hingga menjelang dini hari
ketika aku masih berada di antara tidur dan jaga

menyusun semua menu sepanjang hari
seperti menyusun hari-hari yang terus berulang
dalam sebuah mesin waktu yang terus berputar
tanpa pernah kutahu kapan semuanya akan berhenti
juga untuk menghentikan tanpa bilangan-bilangan
hingga napasku menjadi angka-angka perseteruan
meskipun untuk menyapa diriku sendiri

di antara tumpukan-tumpukan usia memintal tubuh
aku pun seperti sebuah jarum di antara jerami
tak ada sedikit pun kesempatan untuk mencarinya
dan selalu saja kutemukan ikatan-ikatan penjerat
tanpa ujung-ujung simpul sebagai awal atau akhir
sekedar untuk diuraikan dan drentangkan
menjadi sebuah busur pelangi di mana langit
dapat kubidik dengan seluruh kebiruannya
meskipun aku harus menjelmakan diriku
menjadi seekor burung tanpa sayap
bukan sebagai seorang perempuan yang menanggalkan
dasternya di bawah matahari atau rembulan
atau di dalam kamar yang selalu tertutup

DPS 11 11 2015

DIKSI DI BALIK GAUN





seharusnya kau mendengar suara hatiku
bukan karena lirihnya, bukan juga karena desahnya
tapi bagaimana senandung pada setiap helaan napas
jika pada saat langkahku bergegas menyusuri
setiap kegaduhan dan kesunyian bukan untuk
menjelmakan diriku sebagai seorang peri yang selalu
menjaga dengan setia bayangan sendiri
dan mematut-matutnya di cermin

hanya mungkin sekali waktu kau akan mendengar
bagaimana setiap langkahku
seperti kibasan-kibasan ujung kain
meskipun dengan langkah bersijingkat
di antara ikatan-ikatan adat yang menjerat
tanpa sedikit pun untuk dapat menoleh
ke balakang atau ke depan dengan kepala tengadah

langkahku adalah sebuah ibadah tanpa ritual
bukan di atas bunga-bunga yang mengharumkan duri
di mana setiap pijakan mengharumkan langkah
dan setiap bisikan bukan puisi tanpa diksi
di mana makna selalu dapat kau terjemahkan
menjadi napas birahi dari imajinasi yang terabaikan
jika di balik gaun ada malam membentang tanpa batas

DPS 06 11 2015

PENYAMAR MALAM



mungkin aku adalah perempuan penyamar malam
ketika siang hanya menguraikan rambutku
pada setiap helainya yang hitam legam
tapi mungkin kau tidak pernah tahu, ketika langit biru
di mana aku selalu tengadahkan wajah
aku hanya dapat memejamkan mata
melihat burung-burung melintas dengan kepaknya
hanya untuk memburu musim di mana arah mata angin
selalu memberi peta perjalanan untuk kembali
bagi setiap mahluk tentang tujuan awal dan akhirnya

sekali waktu aku tak ingin tengadahkan wajahku
sehingga aku tahu bagaimana menundukkan kepala
dan melihat setiap langkahku masih berpijak di bumi
serta jejakku masih dapat kubaca di belakang punggung
meskipun mungkin tak dapat sepenuhnya lagi berpaling
tapi setidaknya membuatku tak lagi gamang
untuk menentukan apakah harus terus melangkah atau kembali
sehingga tak perlu lagi menjadi perempuan penyamar malam
jika setiap keliaran dan kebinalan menjadi bagian
bukan untuk dihalalkan atau diharamkan

dan sungguh aku tak akan pernah menajiskan diriku
hanya untuk menyucikan setiap pengingkaran
sekalipun mungkin bukan lagi perempuan penyamar malam
sebab telah kutahu jika kelak semua tertanggalkan
sehingga wajahku tak tampak sedikit pun di cermin
tapi setidaknya aku dapat menyanggul setiap helai rambutku
juga dapat mengurainya seperti yang aku mau
tanpa pernah kuperduli sekusut benang dipemintalan
atau sebasah apa pun untuk ditegakan
kecuali mengukur panjang rambutku sepanjang usiaku
bukan lagi sebagai perempuan penyamar malam

Depasar 02 11 2015

RITUAL GERHANA




sudah kulalui mimpi yang malam
di antara jalinan akar-akar rambut
tak akan pernah kusibak
untuk mengibas angin di tengkuk
di antara bulu roma dan desah napasmu

mungkin aku perempuan jalang
pembalik ranjang dari kesucian pejantan
ketika waktu hanya mengulum nafsu
dari balik pintu-pintu kekuasaan
hanya untuk menjarah kenikmatan semu

dan aku hanya dapat mengamini kehangatan
untuk menandaskan setiap persekutuan
di mana setiap lekuk bayangan yang lesap
hanya untuk ditangkap dan lepas
tanpa sebuah perjanjian untuk ditunaikan

kecuali jika kau ingin ziarahi setiap penyesalan
sebagai aroma yang menguar dari tubuhku
untuk pemujaan tanpa batas, bukan kutukan peradaban
di mana perselingkuhan matahari dan rembulan
adalah gerhana sebagai ritual alam untuk ditasbihkan

Denpasar 28 102015 ilustrasi: google

PEREMPUAN WAKTU





seharum apakah bunga
hingga kau ingin menciumnya
seindah apakah kelopaknya
sehingga kau lekat-lekat menatapnya

secantik apakah parasku
sehingga kau memujanya
seelok apakah lekuk tubuhku
sehingga kau ingin tumpahkan birahimu

aku bukanlah hawa yang diturunkan dari kesepian adam
aku bukanlah rabi'ah yang melepas keikhlasan duniawi
aku bukanlah dewi sinta, dipuja rama dan dasamuka
di tubuhku tak ada sejarah perempuan

dari semua kisah itu yang ada hanya
bayanganku sendiri di mana selalu
membuatku khilaf dan terasing dari ruang dan waktu
itulah diriku tempat bersemayam jiwaku

DPS 13 10 2015

KETIKA TOHOR



jangan pernah menyelingkuhi malam
jika ujung gaunmu tak ingin terbakar
oleh cahaya rembulan dan meredubkan
setiap berkas cahayanya
hanya ingin membuat malam lebih kelam

jangan pernah mendustai matahari
dengan menyembunyikan bayangan
ketika langkah tersilap lekukan waktu
untuk meliukkan setiap cumbuan
sebagai pemufakatan sisa napas birahi
dan menzalimi keharaman
jika hanya ingin melahirkan penyesalan

jangan pernah menampung angin
dari sisa gelombang badai
jika kau hanya ingin mencecap buih
setelah laut pasang dari bibir pantai
hanya untuk menarik batas cakrawala
di antara ruang kasat mata

jangan pernah menorehkan senyum
setipis kuluman di sudut bibir
jika hanya ingin melengkungkan yang lurus
hanya untuk mengukur jarak sebuah hati
setelah kehormatan dinistakan sumpah dan janji

: kecuali jika semua sudah menjadi tohor!



 Denpasar 31 08 2015