Jumat, 14 Agustus 2015

DI TANAH MUSIM


di tanahku musim selalu terbuka
di mana matahari dan hujan
menyiangi dan meneduhkan
tempat harapan selalu ditumbuhkan
di mana berkah-Nya dilimpahkan


di tanahku selalu dijanjikan
musim akan selalu subur
pada tanah-tanah yang gembur
dan mengisahkan suka cita
di mana doa-doa dilafaskan
dalam nyanyian dan tarian

di tanahku mata air selalu mengalir
untuk menyempurnakan musim
melalui sungai-sungai dan danau
hingga menyejukkan udara
dan menurunkan butir-butir embun
di pucuk-pucuk dedaunan

di tanahku tak ada kealpaan
tapi entah kenapa, kita selalu saja
salah membaca musim
sehingga kita berada di luar musim


DPS 05 07 2015 - ilustrasi : google

Jumat, 24 Juli 2015

KACANG LUPA KULIT


bagaimana aku dapat melupakan
mengupas sebutir kacang
dan memisahkan kulit dengan isinya

bagaimana aku dapat mengingkari
hanya untuk membelah diri
ketika semua harus berbagi

bagaimana aku harus menjadi penutur
kisah cinta dan benci dari sebuah hati
ketika harus memilah dan memilih

bagaimana aku dapat meyakinkan
jika aku bukan hanya kulit tanpa isi
ketika memilih dengan sepenuh hati

: mungkin ada saatnya aku mengupas
atau tidak mengupas diri dan membiarkan
isi hati tetap terbungkus dengan kulitnya


Denpasar 24 07 2015 ilustrasi : google

SEJAUH-JAUH BURUNG TERBANG



seperti biasa, katamu, ketika burung-burung
melintasi pagi dengan sayap-sayap cahaya
mengepakkan gugusan awan putih
menyiangi siulnya ke delapan penjuru angin

seperti biasa, katamu, ketika aku melangkah
melintasi jalan-jalan di tepi waktu
bukan hanya untuk melintasi kenangan
tapi memahami apa yang pernah kudapatkan
bukan untuk sebuah penyesalan


seperti biasa, katamu, aku akan menjadi biasa
ketika seluruh waktu bukan hanya milikmu dan milikku
tapi milik kita bersama untuk tetap melangkah
di sepanjang ruang tanpa jeda waktu

seperti biasa, katamu, aku akan memahami
apa yang tak biasa, menjadi biasa-biasa saja
ketika sejauh-jauhnya burung terbang
akan kembali ke sarangnya di balik senja

DPS 20 07 2015 - ilustrasi : google

Rabu, 22 Juli 2015

JANGAN MENABUR GARAM DI ATAS LUKA



masih juga garam kau taburkan di atas luka
ketika laut tak lagi menyajikan gelombang
dan memaksaku berdiri di tepi pantai seperti seorang peri
menghujat angin, menghujat langit
tempat kau menyembunyikan segala keperihan
tapi aku hanya mendengar desau angin
untuk merayuku dengan janji kesunyian

apakah memang kau sengaja ingin membuatku karam
di mana hari-hariku penuh ditaburi garam
untuk mengawetkan semua kepedihan
padahal sudah kuaminkan semua kealpaan
meskipun pun kau tak memberi alasan
apakah laut pasang atau surut
dan layar kusut di pangkuan
hingga tak dapat berdiri tegak di haluan
melihatku berdiri di tepi-tepi penantian

haruskah kau terus menerus mencoba
mengukur ke dalaman jiwaku
padahal setiap bisikanku namamu
telah kurapalkan serupa mantra
sehingga serupa lengkingan seruling
yang menghujam begitu dalam
ke dalam luka yang semakin mengaga
tanpa pernah kau berusaha membalutnya

laut memang kebebasan tempat para lelaki
memuja petualangan-petualangan panjang
tapi jangan pernah sesalkan jika ternyata
kau tak pernah menyeberangi cakrawala
dan kau merindukan untuk pulang
untuk merebahkan kepenatan
di mana jemari-jemariku tak lagi dapat
merajut jala yang koyak
hanya untuk membuat perangkap baru untukku

sebab rambutku telah memanjang
sepanjang jala yang pernah kau bentangkan
aku ingin menyisirnya diam-diam
tanpa kubiarkan sehelai pun di sisir oleh angin
di balik cermin tempatku menyimpan sisa impian


DPS 16 07 2015 - ilustrasi : google

Kamis, 09 Juli 2015

MENGERJAB


sekali waktu aku ingin pulang melintasi cahaya
meskipun hanya lewat bayangan-bayangan
di sana aku mencoba berpendar, melukiskan
seluruh rasa cinta yang masih kumiliki
tetapi selalu saja merasa terbakar ketidakpastian


aku pun terengut dan menafikan setiap keyakinan
ketika pusaran angin menerpa dari perbukitan
di sana aku berdiri dengan gamang
dengan menadahkan kepala ke langit
mencari bintang rasi sebagai penunjuk jalan pulang

tapi di sana hanya ada cadar awan hitam
menyimpan badai dan topan, bukan harapan
dan aku pun menjadi penghujat setiap kealpaan
ketika doa-doa tak dapat lagi dirapalkan
tak dapat menampung semua pujian

maka aku memilih bersekutu dengan kesetiaan
untuk tetap menunggu di luar waktu
meskipun kelak hanya menjadi sebutir debu
dihembuskan angin di pelupuk mata
dengan mengerjab-ngerjabkannya
sebagai sebuah tanda percaya dan tak percaya



DPS 09 07 2015 - ilustrasi : google

Senin, 06 Juli 2015

BAWANG MERAH, BAWANG PUTIH


aku mengupas malam
di antara bawang merah, bawang putih
aku seperti mengupas
masa kanak-kanak yang hilang


ada sebuah mahligai di pelupuk mata
terkelupas dari pelaminan
di mana aku mendapatkan diriku
teralpakan dari tanganku
membuat telapak dan jari-jari terbakar
tapi aku mencoba tetap bertahan

tak ada memang yang perlu disesalkan
setiapkali membaca rajah menggariskan
sebuah perjalanan yang kutempuh
sebab masih ada arimata kasih
untuk membasuhnya
bukan sebagai penyesalan

di situlah imanku diletakkan
untuk mengupas setiap butir bawang
tanpa perduli merah atau putih



Denpasar 06 07 2015