Senin, 27 Agustus 2018

BEACH


di atas pasir pantai kuta
masih ada jejak lautmu
ada buih dan gelombang
membuatku selalu terdampar
tanpa pernah kutahu
di mana harus menambatkan
semua kenangan
bukan sekadar kerinduan
untuk datang dan pergi


di atas bentangan pantai sanur
masih ada kisah tertambatkan
untuk tidak sekadar diceritakan
dalam bahasa puisi dan prosa
tanpa pernah kutahu
di mana awal dan akhirnya
setiap percakapan
kecuali menautkan tatapan
bukan sebagai nelayan
menambatkan perahu
di sepanjang bibir pantai terbuka

di tepi pantai berdinding pandawa
gema ombak suaramu memantul
tak perduli pada terik
dan pasir yang berkilau
jika semua tak ada yang sia-sia
kecuali yang terpahat
pada dinding jiwa yang abadi
tanpa menyebut atas nama cinta
tempat mengurai segala duka
menjadi gema tertawa bersama
di dalam suka tak ada habisnya

di tepi pantai tanah lot senja mengatup
dalam drama tarian kecak
di mana cinta dan prahara
tak pernah usai dipentaskan
kecuali untuk terus dilakonkan
sebagai anak manusia dengan kodratnya

Denpasar 13 06 2017

TABLO


di panggung mana lagi
aku harus berdiri
ketika kata menyeret jauh
ke dalam setiap makna
suaraku, masihkah kau dengar
di antara napas yang tersengal


selalu saja kalimat-kalimat patah
pada setiap ungkapan
menjadi bisikan-bisikan liar
seperti perempuan sundal
di puncak birahi yang banal

di luar dan di dalam panggung
aku hanya sebuah lakon
untuk menerjemahkan semua kisah
tanpa pernah memahami maknanya
dan usai di akhir pertunjukan

kini aku hanya dapat memainkan
sebuah tablo bagi diriku sendiri
untuk kuterjemahkan
jika setiap gerak dari lekuk tubuhku
adalah kisah yang lain
tanpa pernah dapat dipahami
: aku tak perduli...


Denpasar 19 06 2017

KESINTALAN WAKTU


Begitulah hari-hari yang kupercaya
Matahari melintas di sepanjang waktu
Bulan melintasi keluasan ruang

Di sana aku terus berpendar, menggeliati musim
Di mana tubuhku memadatkan setiap lekuk kejandaanku
Meskipun melampaui keranuman perawan

Tapi setidaknya tetap kujaga kesintalan keperempuananku

Dps 30 05 2018

SANUR






di bibir pantai, lidah-lidah ombak
mengucap dalam derai gemuruh
orang-orang dari negeri yang jauh
menyeberangi waktu
melepas tubuh di sepanjang sanur
berselimut pasir dan hangatnya mentari

ini negeri kayangan
tempat para dewa bersemayam
dalam sesajen, dupa dan doa
di mana peradaban diritualkan
dengan galeman dan tarian

senandungkan dan liukan
setiap irama dan gerak harmoni
seperti ombak yang mengalun
atau menghempas sepanjang waktu
menjadi sabda keheningan
tempat berdiam jiwa yang tenang

Denpasar 29 Juni 2018 ( Tifa Nusantasra)


WARISAN PERADABAN





laut adalah jiwaku yang mengalun dan bergelombang
sesekali aku menghempaskan diriku pada setiap pulau
di mana pantai-pantainya membuka dirinya
untuk selalu datang dan pergi

apa lagi yang dapat kulukiskan
dari seluruh lekuk dan liku tanah airku
ketika gunung dan lautan mencapai
puncak ketinggian dan keluasan
di sana seluruh harapan tersimpan
dari masa lalu hingga masa depan

apa lagi yang dapat kudengarkan
ketika kicau burung-burung terbang
membawa seluruh tradisi lisan di paruhnya
dengan pantun anak-anak bangsa
dihembuskan angin dari delapan penjuru
tentang adat dan istiadat para leluhur
sebagai warisan peradaban
di mana anak-anak negeri bersantun

apa lagi yang dapat kuterjemahkan
ketika seluruh aksara menjadi satu bahasa
di mana seluruh anak-anak negeri
mengibarkan seluruh semangat kebangsaan
meskipun berbeda-beda hanya satu
di sanalah napas dan ruh bangsaku
tak lekang di sepanjang waktu

Denpasar  23 Juli 2018 - ( Tifa Nusantara)

"Penanam Bunga di Luar Musim"


seharusnya kau tahu
tidak semua bunga harum baunya
sebenarnya kau juga sudah tahu
bunga itu telah tumbuh di luar musim
tanpa pernah kau tahu siapa penanamnya


kini kau masih juga berbicara tentang kelopak
tanpa pernah kau memahami jenis bunganya
sambil bertengkar tentang mahkotanya
apakah terbuat dari lilin atau plastik
hanya untuk menyampahi seluruh ingatan

dan kau baru memahami bunga itu
setelah menyadari duri pada setiap tangkainya
jika ternyata lebih tajam dari sekadar harumnya
untuk tidak pernah kau percaya
jika cinta melebihi semua pengorbanan

Denpasar 03 06 2018

ARAKAN

-- Catatan untuk Rohingya


ada cermin yang pecah
di wajah budha
ketika kemiskinan dijarah
dari lembaran sejarah
suatu anak bangsa
tak memiliki tanah merdeka
dan terasing di tanah kelahirannya sendiri
sebagai manusia-manusia perbatasan
kecuali sebagai buruan
dari anak-anak bangsa lainnya


dan di sana, di mana keyakinan
menjadi alasan untuk setiap kebencian
menjadi sebuah pertunjukan
dari sebuah peradaban yang kalah
jika harkat dan martabat
hanya sebuah hikayat dalam doa
untuk mencapai nirwana

lalu jubah apalagi yang harus dikenakan
ketika setiap helainya hanya menjadi selimut
kemurkaan yang membentang
menjadi sebuah ladang pembantaian terbuka
ketika anak-anak sejarah yang kalah
hanya menatap masa depan
dengan airmata sebagai ratapan belas kasih
tak tertampung lagi di wajah budha

di balik cermin wajah budha yang terluka
kini hanya ada jari-jari stupa menunding langit
di mana cahaya dan kebenaran
hanya susunan waktu dari setumpuk batu
pada sebuah keyakinan yang rapuh
dan menunggu reruntuhan sebagai
sebuah arakan dalam sejarah yang tak terlupakan

Denpasar 06 09 2017